Vindo Comics, Pusat Komik Wayang dan Silat Indonesia. Jakarta Comic Center.

1 Januari, 2008

Baru Tiba Stock Baru!!! Koleksi Komik Silat Indonesia!!!

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 10:15 pm

Dapatkan segera komik-komik silat Indonesia dari stok per 1 Januari 2008 sebelum kehabisan!!!


Terdapat diantaranya komik-komik silat karya Man, Jan, Ganes, Teguh, Hans, Djair, Abuy Ravana, Usyah, Henky, Tatang S, dll. Komik-komik superhero karya Hasmi, Wid NS, Gerdi, Widya Noor, dll.

Dapatkan pula cerita silat cetak ulang kami yang baru tiba, seperti Sin Tiaw Hiap Lu, Sin Tiaw Eng Hiong, Pendekar Harum, dll karya OKT, Boe Beng Tjoe, Gan KL, Gan KH, Tjan ID, dll.

Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

ITC Fatmawati lt.1 no.151

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

vindo_mail@yahoo.com

www.wayangkom.com

Outlet Baru Vindo Comics di ITC Fatmawati!!!

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 10:08 pm

Kabar Gembira!!!

Vindo Comics telah membuka Outlet Kedua di ITC Fatmawati Lt.1 No.151

Untuk dapat lebih menjangkau pecinta komik dan masyarakat yang ingin atau tertarik membaca komik wayang, komik silat, komik Indonesia lainnya, serta Cerita Silat, maka Vindo Comics membuka Outlet kedua di ITC Fatmawati lt.1 No.151.

Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

ITC Fatmawati lt.1 no.151

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

Hp : 0813-1818-6001

vindo_mail@yahoo.com

www.wayangkom.com

12 November, 2007

Mengajak Anak Cinta Wayang

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 9:20 pm

Minggu, 24 Juni 2007
Ki Djoko Sutedjo
Mengajak Anak Cinta Wayang

Oleh : owo

Kecintaannya pada wayang membuatnya bertindak. Ki Djoko Sutedjo tak ingin anak-anak bangsa melupakan peninggalan budaya ini. Maka, kemampuannya melukis ia pakai untuk mengenalkan wayang kepada anak-anak.

Ruang berukuran 2,5×4 meter ia manfaatkan sebagai sanggar. Tentu tak bisa menampung banyak anak asuh. “Awalnya, memang hanya beberapa anak, namun kini peminatnya terus bertambah,” ujar Ki Djoko saat ditemui Republika di sanggarnya, di Jl Arteri Soekarno-Hatta 156, Palebon, Semarang, Selasa (12/6).

Sejak mendirikan Sanggar Seni Lukis Wayang Paku Budaya pada 4 Desember 2005, ia telah mengajarkan melukis 100 tokoh wayang, dari 400 tokoh yang ada. Anak asuhnya dari usia prasekolah hingga usia kelas enam SD. Sembari mengajar melukis ataupun mewarnai, ia mengenalkan sosok wayang itu.

Para anak asuh ini, sampai saat ini tak ia pungut biaya. Bahkan, ia merasa perlu menyediakan berbagai kebutuhan mereka selama di sanggar, seperti makanan ringan kesukaan anak-anak. Termasuk pula peralatan melukis dan mewarnai. “Sehingga, di sanggar mereka bisa mendapatkan apa yang diinginkannya,” kata Ki Djoko.

Menurut Ki Djoko, selama setahun bergelut dengan wayang di sanggar membuat anak-anak asuhnya bisa mencintai wayang. Mereka mengenal karakter tokoh wayang yang mereka gambar dari mulut Ki Djoko. “Secara tidak langsung mereka akan memahami nilai-nilai kehidupan yang bisa diterapkannya dalam berperilaku sehari-hari. Baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah,” kata Ki Djoko.

Ki Djoko mengharapkan anak-anak asuhnya meneladani sosok-sosok baik dari dunia perwayangan itu. “Saya mengajarkan kepada mereka tentang sikap-sikap ksatria para Pandawa Lima, dan sikap pengabdian, kepatuhan, serta lucunya tokoh-tokoh Punakawan,” ujar Ki Djoko.

Sekarang, anak-anak asuhnya bisa mengerti mengapa tokoh-tokoh wayang tersebut bisa digambarkan dengan warna wondo (wajah) yang berbeda. Misalnya, Bima dengan wajah warna hitam, berarti sudah tua. Sebaliknya, Arjuna yang diwarnai putih, menunjukkan ia masih muda.

Agar anak-anak ini menikmati kegiatan melukis wayang, Ki Djoko menerapkan konsep bimbingan kepada mereka. Dengan cara ini, ia mengajak anak-anak bermain-main dengan wayang. Untuk pewarnaan tokoh wayang, ia tetap mengajarkan sesuai pakem. Namun, untuk pewarnaan latar belakang dan gambar pendukung, ia membebaskan anak-anak berimajinasi dengan warna.

Buku panduan
Ki Djoko mulai melukis wayang sejak usia 10 tahun di kampung halamannya, di Klego, Boyolali, Jawa Tengah. “Dulu waktu mewarnai wayang saya menggunakan kunyit untuk warna kuning dan merah, arang untuk warna hitam, daun pepaya untuk warna hijau, dan temu ireng untuk warna ungu,” ujar pelukis yang memamerkan karyanya pertama kali di Balai Rakyat Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini.

Di masa kecilnya, untuk tertarik wayang Ki Djoko merasa tak mengalami kesulitan, karena saat itu belum ada hal-hal yang menandingi wayang. Sekarang? Banyak sosok pahlawan imajinatif dari Amerika dan Jepang yang membanjiri dunia anak-anak.

”Anak- anak ini juga butuh pengenalan tentang wayang yang merupakan produk budaya asli kita,” ujar Ki Djoko. Untuk membumikan wayang di era modern ini, menurutnya, perlu upaya yang disesuaikan dengan kondisi zaman. Pengenalan lewat kegiatan melukis, adalah salah satu upaya yang disesuaikan dengan kondisi zaman itu.

Ki Djoko menegaskan upaya dia seorang diri tak akan berpangaruh banyak untuk memperbanyak jumlah anak yang mencintai wayang. Ia menyatakan butuh kepedulian masyarakat luas.

Ia beruntung. Kegiatannya ini mendapat respons dari berbagai pihak. Di antaranya, ada Pemerintah Kota Semarang, IKIP PGRI Semarang, dan Persatuan Pedalagangan Indonesai (Pepadi) Jawa Tengah, yang ikut membantu sanggarnya. Ia pun perlu menyisihkan hasil penjualan lukisannya untuk menghidupi sanggarnya ini.

Respons dari orang tua pun juga menggembirakan. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya diajari melukis wayang. Mereka tak hanya dari Kota Semarang, melainkan juga dari Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, dan Kota Salatiga.

Maka, Ki Djoko kini tengah memikirkan upaya memperbesar sanggarnya. Kalau memungkinkan, ia malah berhasrat membuka sanggar cabang di berbagai kota. “Saya berharap ini bisa direspons oleh pihak-pihak yang peduli pada pelestarian seni wayang,” ujar dia.

Sebelum obsesinya ini terlaksana, ia telah merangsang para orang tua lewat penerbitan buku panduan mewarnai wayang yang ia tulis. Teknik mewarnai dan memadukan warna pun ia ajarkan, agar anak-anak memiliki dasar-dasar mewarnai. Ia pun memandu salah satu acara melukis dan mewarnai wayang di sebuah stasiun televisi lokal di Semarang.

Kini, hampir seluruh waktu hidupnya tercurah untuk berkreasi dengan objek wayang. Mulai melukis hingga membimbing anak-anak di sanggar. Ki Djoko mengaku telah malang-melintang dengan karyanya. Pameran-pameran lukisannya dibuka mulai dari camat hingga presiden. Ia pernah pula diundang presiden ke Istana Negara, di masa Presiden Soeharto. “Kini saatnya saya menyelamatkan generasi baru kita dari ketidaktahuan terhadap budayanya sendiri,” ujar Ki Djoko.

sumber: www.republika.com

11 Oktober, 2007

Komik Mahabharata, Novel Grafis lokal karya Asli Indonesia

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 9:32 pm

Novel Grafis Tanpa Laporan

Trilogi Sandhora karya Teguh Santosa bercerita dengan cara yang unik dan penataan panel yang eksperimental.

Sebuah mobil berhenti di depan panti asuhan. Seorang lelaki bersepatu turun dari mobil, berikutnya disusul kaki polos seorang wanita. Wanita itu tak memakai sandal atau sepatu hak tinggi. “Buruan!” kata sang lelaki. “Tuan, Tega! Tega!” perempuan berkaki polos itu memprotes. Komikus Wisnoe Lee—di buku berjudul Blacan: Rindu Dendam (jilid 1) ini ia menyebut dirinya Graphics Novel Designer—menyuguhkan sekuen panel yang terasa filmis di novel grafis yang dikeluarkan penerbit Jagoan Komik itu.

Seperti kamera, ia mengambil adegan ketegangan seorang penjahat dengan seorang perempuan yang dipaksa meletakkan bayinya di panti asuhan, dari celah bawah mobil. Yang tergambar adalah sekuen kaki. Tapi gerakan kaki—kaki yang menendang, kaki yang tak ingin turun dari mobil dan kaki yang lunglai—sudah cukup berbicara bahwa drama di depan panti asuhan itu adalah adegan kekerasan yang dilakukan seorang bos mafia terhadap wanita yang telah ia perkosa.

“Saya memang ingin menonjolkan aspek sinematik dalam komik. Dengan angle gambar semacam itu aspek misteri tokoh-tokohnya langsung teraba oleh pembaca,” jawab Wisnoe. Angle, fokus gambar, bagaimana meletakkan wide screen atau close up tampak tergarap betul dalam seri pertama dari lima seri Blacan yang direncanakan.

Ceritanya, mula-mula ada sebuah adegan pembuangan anak, lalu muncul seorang tokoh pahlawan penyelamat dengan sebutan Blacan (bernama asli Bram) beberapa tahun kemudian, kemudian ada kisah roman Bram dan Maya yang ternyata anak bos mafia yang membuang anak itu, dan di ujung cerita terjadi konflik yang kompleks antartokoh.

“Dilihat dari sisi aspek dramatik cerita yang tak menonjolkan jagoan bak superhero, saya kira karya saya ini masuk dalam kategori novel grafis,” ungkap alumnus Desain Grafis Istitut Seni Rupa Yogyakarta tahun 1990 itu. Dalam Blacan—di Jawa Tengah berarti sejenis kucing hutan—ada cerita yang cukup panjang dengan 68 halaman berwarna dan akan berakhir di seri kelima.

Kemudian aspek emosional cerita menonjol dan visualisasinya memiliki berbagai angle. Materi dasarnya diambil dari Namaku Bram karya Wisnoe dan Rini Nurul sebanyak 250 halaman yang sejak 1995 hingga sekarang belum kelar digarap. Apakah dengan sejumlah data itu, Blacan bisa digolongkan sebagai novel grafis dan pengarangnya layak menyebut diri sebagai graphic novel designer (lazimkah istilah ini dalam jagat novel grafis?)?

Ataukah sesuai dengan definisi “novel grafis” yang disebut Hikmat Darmawam, pengamat genre ini, karya Wisnoe itu sudah memenuhi kaidah “grafis yang ceritanya memiliki ambisi sastrawi”? Jika ambisi sastra menjadi ukuran penting, Blacan tampaknya mesti meningkatkan bobot sastra pada seri berikutnya.

Hikmat menandai, kendati tak hirau dengan hiruk pikuk perdebatan definisi novel grafis di Amerika dan Eropa, komikus Indonesia secara tak langsung sudah mencipta novel grafis. Ia mencatat komik Mahabharata karya RA Kosasih pada 1950-an sebagai awal tumbuhnya novel grafis di Indonesia. Selanjutnya disusul komik Taguan Hardjo, Trilogi Sandhora milik Teguh Santosa, sebagian karya Jan Mintaraga, kisah Misteri Kematian Si Dewi Racun milik HAR, Sukab karya Seno Gumira Ajidarma, hingga Selamat Pagi Urbaz ciptaan komikus muda Beng Rahardian.

Mahabharata karya RA Kosasih, menurut Hikmat, bersumber dari karya asli yang memiliki kandungan sastra yang tak bisa dinafikan begitu saja. “Kendati ceritanya sudah dibesut ulang oleh Kosasih, saya masih melihatnya sebagai awal periode novel grafis di Indonesia,” ucapnya. Tapi apakah “ambisi sastrawi” itu penting bagi novel grafis? Pengelola milis Komik Alternatif Surjorimba Suroto lebih melihat bobot sastra bukanlah soal urgen bagi perkembangan novel grafis di Indonesia maupun di dunia.

“Bagi saya yang membedakan novel grafis dengan komik adalah lebih pada revolusi dalam cara bercerita dan penataan panel yang lebih eksperimental,” kata Surjo. Surjo menandai awal mulanya tumbuhnya novel grafis di Indonesia dimulai ari Trilogi Sandhora (1969) karya Teguh Santosa atau karya dia sebelumnya, Sebuah Tebusan Dosa (1967).

Ia tak memasukkan komik wayang RA Kosasih sebagai novel grafis. “Saya sih menganggapnya komik wayang yang bercerita epos biasa,” ujarnya. Trilogi Sandhora, kata Surjo, memenuhi dua hal yang ia sebut sebagai ciri khas novel grafis: cara bercerita yang unik dan teknik gambar yang eksperimental. Trilogi ini adalah sebuah fiksi yang mengambil cerita bersejarah yang berlatar penyerbuan Spanyol ke Filipina dan Perang Diponegoro pada 1825-1830.

Karya-karya lain? Surjo memasukkan cerita ciptaan Wid NS dan Hasmi di luar komik superhero mereka ke dalam genre novel grafis. Wid NS pernah membuat Kucing (1981), sedangkan Hasmi dalam gambar yang dimuat majalah HAI mencipta Buku Tamu Museum Perjuangan (1981) dan Balada Lelaki- lelaki Tanah Kapur (1982). Cerita Hasmi yang pertama ditulis oleh penyair Taufiq Ismail, sedangkan cerita yang kedua ditulis (atau terinspirasi dari puisi?) WS Rendra.

Untuk karya-karya terbaru, Surjo sepakat menyebut Blacan (Wisnoe Lee) dan Selamat Pagi Urbaz (Beng Rahardian) sebagai novel grafis. Beng menceritakan, saat membuat Selamat Pagi Urbaz ia tak berpikir bahwa karyanya akan digolongkan sebagai novel grafis. “Yang ada di kepala saya waktu itu cuma saya ingin ngomik,” Beng mengungkapkan. Hanya, Beng memang tak ingin membuat komik superhero, tapi komik bertema sosial. Kehidupan kota Yogyakarta yang berubah dan mitologi “bintang jatuh” pun ia gali menjadi tema komik dalam Selamat Pagi Urbaz.

“Penerbitnya yang menamai novel grafis, karena mungkin sifat komik saya lebih mirip novel grafis,” ucapnya. Beng tak tahu sudah berapa eksemplar novel grafisnya telah laku. “Karena sampai saat ini, sudah lebih dari setahun, tak ada laporan dari penerbit,” ucapnya. Hikmat mengatakan, sebagaimana komik, novel grafis di Indonesia tak memiliki industri. “Tak cukup mendapat topangan dari dunia penerbitan, Jika sudah diterbitkan dan kelihatan laku, cetak ulangnya pun tersendatsendat,” ujarnya.

“Jadi Indonesia bukannya tak punya karya-karya novel grafis, tapi lebih karena tak terekspos media dan tak mendapat dukungan memadai dari dunia penerbitan,” sahut Surjo. yos rizal

sumber :  www.ruangbaca.com

=============================================================

Sebuah bukti bahwa Indonesia juga telah memiliki novel-novel grafis namun tidak terekspos dengan baik. Banyak orang yang terpesona oleh novel-novel grafis asing, seperti A Thousand Ships, The White Lama, V for Vendetta, dll. Namun tahukah kita bahwa Mahabharata dan Ramayana karya R.A.Kosasih juga ternyata adalah salah satu novel grafis yang sangat bagus dan wajib untuk diikuti??  Bila novel grafis A Thousand Ships bercerita tentang perang dahsyat Troy, Maka Mahabharata sendiri tidaklah kalah menarik. Mahabharata dan Bharatayudha menceritakan tentang kisah peperangan maha dahsyat antara Pandawa dan Kurawa.  Kisah-kisah klasik yang penuh makna dan nilai filosofis ini dapat disajikan dengan gamblang dan mudah dicerna oleh R.A Kosasih.

Dapatkan segera komik Mahabharata di Vindo Comics!!!

Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

vindo_mail@yahoo.com

http://www.wayangkom.com

Promo 1 set Komik Mahabharata!!!

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 9:03 pm

SPECIAL PROMO!!!!
Dapatkan diskon khusus 10% untuk setiap pembelian 1 set serial Komik Mahabharata Hardcover (Mahabharata, Bharatayudha, Pandawa Seda) seharga Rp.380,000 menjadi Rp.342,000.

Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

vindo_mail@yahoo.com

http://www.wayangkom.com

Komik Ramayana Edisi Hardcover akan segera Terbit!!!

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 7:54 pm

Melihat sambutan dan animo masyarakat pencinta komik dan wayang yang cukup hangat terhadap Komik Mahabharata edisi hardcover, maka akan diterbitkan pula Komik Ramayana edisi Hardcover. Dengan terbitnya komik komik wayang (Mahabharata, Arjuna Sasrabahu, dan Ramayana) ini diharapkan dapat mengangkat kembali minat masyarakat terhadap komik lokal (komik Indonesia) terutama komik wayang.

Vindo Comics menjual komik wayang seperti; komik Mahabharata, komik Ramayana, komik Arjuna Sasrabahu, komik wayang purwa, dan komik-komik wayang lainnya.

SPECIAL PROMO!!!!
Dapatkan diskon khusus 10% untuk setiap pembelian 1 set serial Komik Mahabharata Hardcover (Mahabharata, Bharatayudha, Pandawa Seda) seharga Rp.380,000 menjadi Rp.342,000.

Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

vindo_mail@yahoo.com

http://www.wayangkom.com

Wayang Indonesia Dinobatkan sebagai ”Masterpiece” Dunia

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 7:51 pm

Oleh CAHYA HEDY
ADALAH suatu kebanggan sekaligus sebuah prestasi budaya yang mendunia dari suatu bangsa yang berbudaya serta memiliki citra dan berperadaban tinggi, ketika kesenian wayang kini didudukan sebagai salahsatu masterpiece dunia. Pada 7 November 2003 lalu, wayang Indonesia mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Tentunya penghargaan tinggi seperti itu tidak mudah diberikan pada setiap bangsa yang memiliki kekayaan budayanya, melainkan anugerah budaya tersebut berlandaskan berbagai kriteria dan parameter tertentu.

Momentum tersebut sangat relevan sekali dengan keberadaan seni pewayangan Indonesia yang memiliki ragam bentuk seni wayang yang terhampar di berbagai wilayah budaya Nusantara. Yang lebih populer keberadaannya adalah Wayang Kulit dari Jawa dan Wayang Golek dari Sunda. Dua bentuk seni pertunjukan tersebut masing-masing memiliki kekuatan nilai baik estetis, praktis maupun filosofinya. Keedua-duanya sama-sama sebagai kesenian wayang yang berakar dari budaya lokal yang hidup secara turun temurun dalam rantai benang merah ketradisiannya. Tidaklah berkelebihan ketika seni wayang (Wayang Golek dan Wayang Kulit) mendapat tempat sebagai seni yang adiluhung.

Konsekuensi logis dari adanya pengakuan UNESCO terhadap Teater Wayang Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible of Humanity, maka Kementrerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 26 Januari – 2 Februari 2004 lalu telah melaksanakan kegiatan sosialisasi wayang ke luar negeri yaitu ke Prancis, yang digelar di Kota Bordeaux, Nancy (perbatasana dengan Jerman) dan Kota Strassbourg dan terakhir di Kota paris.

Meski kebudayaan tersebut berbentuk Lecture Demonstration dan Exhibition Teater Wayang Indonesia, yang pelaksanannya dipimpin langsung oleh Dr. Sri Hastanto,S.Kar. yang saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Seni dan Film pada Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Jumlah personel yang tergabung dalam misi budaya sosialisasi Wayang Indonesia di luar negeri tersebut berjumlah 18 orang dari mulai kepanitiaan, seniman dan wartawan.

Melalui misi budaya tersebut diharapkan mampu memberikan keyakinan terhadap masyarakat dunia melalui wayang, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dan bermartabat serta berperadaban tinggi. Disisi lain melalui misi budaya inipun diupayakan agar Indonesia dapat menjadi pusat (leading actor) dalam hal pewayangan dunia, seperti halnya dipaparkan oleh Sri Hastanto (pimpinan rombongan).

Wayang ajen partisipan

dari (Sunda) Jawa Barat

Pada dasarnya misi budaya tersebut berlangsung sukses, terlebih dari hal pertunjukkannya yang berhasil memukau masyarakat setempat. Kesuksesan tersebut pada dasarnya didukung oleh berbagai pihak terkait. Selain dari adanya kepiawaian dua dalang (Wayang Golek dan Wayang Kulit) yaitu Ki Dalang Wawan Gunawan (Wayang Golek Ajen) dan Ki Dalang Bambang Sowarno (Wayang Kulit) juga peranan sang presenter Sri hastanto yang memberikan penjelasan seputar wayang Indonesia termasuk meluruskan definisi pengertian kata wayang yang sebenarnya, ceramahnya dapat meyakinkan publik akan pemahamannya tentang wayang di Indonesia meski secara global. Di samping itu pula, perang pro aktif dari dua lembaga perwakilan Indonesia di Perancis yaitu Duta Besar RI untuk UNESCO dan KBRI Paris dalam hal ini Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Kedua lembaga tersebut telah berupaya membantu menyukseskan misi budaya Indonesia di Prancis.

Tindak lanjut dari kesusksesan pada sosialisasi awal tentang peta kekuatan wayang Indonesia di mata dunia tersebut , maka pada 19 April 2004 mendatang, wayang Indonesia akan dipentaskan kembali pada event pembukaan sidang Excecutive Board UNESCO di markas besar UNESCO Paris. Moment seperti itu dipandang telah memberikan angin segar terhadap kebangkitan dan semangat berkesenian para seniman pewayangan (padalangan) di tanah air. Paling tidak para seniman padalangan di tanah air terutama lingkup wayang golek dan wayang kulit, mendapat kesempatan untuk tampil di manca negara dalam event-event penting yang tidak hanya sekadar tour layaknya.

Selama ini duta-duta seni yang mendapat kepercayaan melanglang dunia terbatas hanya pada seniman-seniman tertentu saja. Untuk selalu menjaga kualitas dan kelayakan sebagai duta seni tersebut, kiranya pihak terkait terutama Senawangi sebagai payung besarnya dapat lebih proaktif dan bijaksana dalam memilih dan mennetukan para seniman padalangan (dalang) yang akan dijadikan duta seni ke manca negara.

Seperti kita maklumi bersama bahwa orgaisasi induk pedalangan dalam hal ini adalah Pepadi Pusat dan Senawangi, dijadikan pusat koordinasi yang dapat mengakomodir komunikasi antar seniman pedalangan di nusantara. Untuk itu perlu ada keseimbangan koordinasi antara komunitas wayang kulit (Jawa) dengan komunitas wayang golek (Sunda), keduanya memiliki kedudukan yang sama sebagai aset kekayaan budaya nusantara yang adiluhung. Semoga!***

Minggu, 07 Maret 2004

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0304/07/khazanah/lainnya5.htm
Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

vindo_mail@yahoo.com

http://www.wayangkom.com

2 Oktober, 2007

Wayangkom, Pusat dan Komunitas Komik Wayang

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 7:16 pm

Wayangkom, Pusat dan komunitas komik wayang telah diresmikan pada tanggal 1 oktober 2007. Dapatkan berbagai info terbaru tentang komik wayang dan merchandise-merchandise wayang.

untuk melihat judul-judul komik wayang yang tersedia dan harganya dapat langsung menuju ke website wayangkom.com. kunjungi segera untuk mendapatkan info selengkapnya!!! klik pada link dibawah ini:

http://www.wayangkom.com
Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

Telp : 021-929-11241

Hp : 0815-91-34183

vindo_mail@yahoo.com

22 September, 2007

Arjuna Sasrabahu HC karya Oerip telah Terbit

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 11:22 pm

Komik Arjuna Sasrabahu karya Oerip edisi HardCover telah terbit!!! Komik ini menceritakan tentang kisah perjalanan Sumantri dalam mendapatkan kepercayaan Prabu Arjuna Sasrabahu dan mendapat gelar patih Suwanda serta kisah Prabu Arjuna Sasrabahu melawan Rahwana yang penuh angkara murka.

 

 

Selain kisah pertempuran antara baik dan jahat, komik wayang Arjuna Sasrabahu karya Oerip ini juga menceritakan tentang kisah mengharukan penuh emosi antara Sumantri dengan Sukrasna adiknya yang berwujud raksasa namun bertubuh kecil.
Arjuna Sasrabahu Hardcover BArjuna Sasrabahu Hardcover A Arjuna Sasrabahu Hardcover B isi 1 Arjuna Sasrabahu Hardcover B isi 3

Kisah peperangan kolosal Sumantri melawan Raja Widarba dan Prabu Arjuna Sasrabahu melawan si raja angkara murka Rahwana menjadikan komik Arjuna Sasrabahu ini wajib untuk dibaca. Desain dan bentuk komik yang eksklusif dan memberikan kesan mewah serta indah bila dipajang di rak buku anda membuat komik ini wajib pula untuk dikoleksi.

Vindo Comics

Pusat Komik Wayang, Silat dan Indonesia

Plasa Semanggi lt.2 no.118 blok b

Jakarta Selatan, Jakarta – Indonesia

Phone : +6221-929-11241

HP : +62815-91-34183

Email : vindo_mail@yahoo.com

 

 

21 September, 2007

Subali dan Sugriwa

Filed under: Blogroll — vindocomic @ 9:35 pm

Subali Sugriwa merupakan sebuah karya klasik sarat makna dan nilai moral. Sebuah karya epik yang menceritakan pertikaian dua saudara kandung disebabkan oleh sebuah kesalah-pahaman yang sebenarnya sangat sederhana. Subali dan Sugriwa adalah putra resi Gutama. Selain Subali dan Sugriwa, Resi Gutama juga mempunyai seorang putri yang bernama Dewi Anjani. Baik Subali Sugriwa dan Dewi Anjani pada awalnya berwujud manusia yang Gagah dan Cantik.

Asal muasal perubahan wujud mereka menjadi manusia kera adalah perebutan Cupu Manik milik ibunya Dewi Indradi. Cupu manik yang diperebutkan tersebut berubah menjadi danau ajaib yang pada akhirnya merubah wujud Subali Sugriwa menjadi manusia kera dan Dewi Anjani menjadi manusia berwajah kera. Atas saran ayahnya, mereka melakukan semedi untuk meminta pengampunan dewata.

Batara Guru yang mendengar semedi mereka akhirnya memberikan Tugas pada Subali dan Sugriwa untuk menyelamatkan dewi Tara yg diculik oleh siluman. Sedangkan Dewi Anjani diangkat ke surgaloka setelah melahirkan seorang bayi berwujud kera putih yang kelak dikenal sebagai Hanoman. Awal kesalah-pahaman Subali Sugriwa berawal dari tugas menyelamatkan Dewi Tara. Pada saat pertempuran, Sugriwa yang mengira kakaknya Subali telah gugur segera membawa Dewi Tara pergi dan menutup pintu goa tempat pertempuran. Subali menjadi sangat marah dan merasa dikhianati. Sejak saat itu perselisihan mereka terus berlanjut.

Baca kisah selanjutnya pada komik Subali dan Sugriwa yang akan diterbitkan segera!!!!

Vindo Comics

Plasa Semanggi lt.2 No.118 blok b

Jakarta Selatan, Jakarta – Indonesia

Phone : +6221-929-11241

HP : +62815-91-34183

Email : vindo_mail@yahoo.com

Older Posts »

Blog di WordPress.com.