Vindo Comics, Pusat Komik Wayang dan Silat Indonesia. Jakarta Comic Center.

19 Juni, 2007

Wawancara Vindo Comic oleh Republika

Filed under: Uncategorized — vindocomic @ 10:29 pm

Mencintai Komik Wayang

Pencintanya bukan hanya orang-orang yang bernostalgia.

Jika bukan lantaran komik wayang, belum tentu ia mau naik turun eskalator. Usianya telah 80 tahun. Langkahnya sudah tertatih. Ke sebuah toko buku berukuran 3×4 meter di lantai dua Plaza Semanggi, Jakarta, sang kakek memaksakan diri pergi.

Sang kakek dulunya penggandrung komik semisal Mahabharata, Ramayana, atau Pandawaseda, komik epos dunia perwayangan yang terbit sejak dasawarsa 1950-an di Indonesia.

Sebuah kabar mampir ke telinganya soal keberadaan toko khusus komik wayang di Plaza Semanggi. Sang kakek agaknya tak perlu berpikir dua kali untuk segera menyambangi meski ia harus datang digandeng istrinya. Sekadar membunuh kerinduan masa remaja.

”Komik wayang memang komik nostalgia,” kata Hendra Wijaya (28 tahun), pemilik toko buku komik wayang Vindo sekaligus kolektor komik-komik wayang.

Herman merekam ada lebih dari 300 orang yang tercatat di buku tamu sejak gerainya dibuka setahun lalu. Dari jumlah itu, sebagian adalah para orang tua. ”Malah ada yang (berumur) 85 tahun,” cerita dia. ”Seperti kakek tadi.” Merdy Kanto Batangtaris (54) termasuk penggemar komik wayang generasi pertama. Sejak kelas tiga SD, pada awal 1960-an, Merdy sudah tergila-gila pada komik Mahabharata karya penulis legendaris R A Kosasih. ”Pada masa itu gambar-gambar grafis komik wayang sudah tergolong mutakhir. Bayangkan, para komikus mengerjakannya secara manual,” tutur dia. ”Ceritanya pun seru,” ia beralasan.

Empat dasawarsa berlalu dan kini Merdy telah menjadi kolektor dari 100-an komik-komik wayang langka. Tersimpan rapi di kediamannya di bilangan Petukangan, Jakarta Selatan, koleksi komik-komik Merdy terdiri dari terbitan pertama tahun 1960-an yang sebagian besar sudah punah. Istilahnya, komik collector item. ”Kalau edisi cetak ulang, terus terang, saya enggak doyan,” tutur dia.

Ada seri Gatot Kaca Sewu atau epos fenomenal Mahabharata edisi perdana-nya R A Kosasih. Termasuk karya pertama S Ardisoma, Oerip S Ardina, atau John Loo. Ada pula edisi terbatas Pandawaseda. Komik-komik baheula ini seluruhnya berbahan kertas koran berwarna kecokelat-cokelatan. Bahasa yang digunakan pun masih ejaan lama. Lantaran langka, Merdy merawatnya dengan sangat apik. Buku-buku ini ia bungkus plastik dan ia taburi silica gel untuk menangkal hawa lembab. Menurut Merdy, kerusakan buku-buku kuno di Indonesia sebagian besar adalah akibat hawa lembab.

Di Indonesia, kata Merdy, teknologi perawatan buku-buku kuno dimiliki Arsip Nasional Indonesia. Tapi ongkosnya lumayan tinggi. Merdy mengaku bisa memprediksi sebuah buku akan rusak (akibat hawa lembab) dalam tiga tahun mendatang. ”Buku-buku ini biasanya saya jual,” kata dia.

Komik asing
Tak hanya komik lokal, koleksi Merdy termasuk pula komik wayang dari India, negeri pusat cerita perwayangan.

Tapi, belakangan ada seorang kolektor yang luar biasa ngebet pada komik berbahasa Inggris ini. Merdy enggak tega. ”Ya, sudah saya lepas,” kata dia seraya menyebut ada pula komik wayang versi Kamboja yang dimiliki seorang kolektor di Jakarta.

Salah satu koleksi yang sempat ia jual adalah dua set komik Mahabharata generasi awal yang terdiri dari 40 buku. Tiga tahun lalu, Merdy melepasnya Rp 2 juta. Saat ini ia menduga harganya sudah mencapai Rp 4-5 jutaan.

Sebagai kolektor tulen, ”Hingga kini saya masih berburu komik-komik wayang,” ujar dosen mata kuliah sejarah seni dan budaya Indonesia di Universitas Bina Nusantara dan Universitas Pelita Harapan Jakarta ini. Sebagai kolektor sejati juga, Merdy tak segan untuk berjejalan atau jongkok di lapak-lapak kios buku kuno.

Malah, tukang buku loak di sekitar rumahnya sudah hafal betul. ”Kalau memperoleh komik wayang lama, mereka pasti langsung antar ke rumah,” cerita dia.

Soal perburuan komik-komik wayang lama, Merdy telah melebarkan sayapnya ke nyaris seluruh kota-kota besar di pulau Jawa. Memang tak ada waktu berburu khusus. ”Tapi, begitu saya tiba di sebuah kota. Saya selalu meluangkan waktu untuk sekadar berburu komik wayang kuno di toko-toko buku loak,” kata Merdy yang kerap didaulat menjadi pembicara seminar tentang komik wayang.

Namun, Merdy tidak sendiri. Pencinta komik wayang rupanya tidak hanya para orang tua yang bernostalgia. Anomali selalu memiliki ruangnya sendiri. Saban seminggu sekali, toko buku Hendra selalu dikunjungi dua orang bocah berusia tujuh dan delapan tahun kolektor komik-komik wayang. Bocah yang pertama kebetulan anak seorang dalang di Jakarta. Sementara bocah kedua mengaku tak doyan komik Jepang atau Barat. Alasannya,”Ia kerap diceritakan kisah-kisah wayang oleh bapaknya,” tutur Hendra.

Sarat Nilai Filosofis

Bagi Hendra Wijaya, salah satu alasan komik wayang menarik adalah kandungan pesan-pesan moral di dalamnya. Pada kisah Ramayana, misalnya, sang tokoh Rama sempat ditantang pertanyaan: Mengapa para dewa menciptakan tokoh jahat seperti Rahwana, yang semata membikin kerusakan di muka Bumi? Rama menjawab,”Tanpa kerusakan, maka takkan ada perbaikan. Tanpa kejahatan, tak ada kebaikan.”

Begitu pula Medry. Kisah-kisah dalam wayang, menurut dia, menggambarkan karakter beragam manusia. Ada yang licik, jujur, atau ksatria. Kisah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa dalam epos Mahabharata adalah tema membumi yang merepresentasikan kehidupan politik yang pelik. Dalam gonjang-ganjing politik, tokoh Kumbakarna (Ramayana) atau Dipatikarna (Mahabharata) adalah tipikal manusia nasionalis (baca : ksatria) yang berani mengatakan,”Right or wrong is my country,” tuturnya.

Sebagai akademisi, Merdy tak sekadar ‘menikmati’ komik wayang sebagai sebuah karya seni ilustrasi an sich. Komik wayang juga memiliki dimensi lain seperti politik, sejarah, dan budaya yang kental dan saling kait-mengait. Komik wayang ini memiliki konfigurasi tema yang kaya dan luas. Sebagai sebuah karya seni, misalnya, komikus wayang mesti mendasarkan kreasi-kreasinya pada pakem-pakem dunia perwayangan, seperti busana, bentuk senjata, dan karakter fisik para lakon-lakonnya.

Membuat Arjuna yang Keren

Apakah pamor komik wayang akan kian tenggelam dan kehilangan penggemarnya?
Pertanyaan ini memang menggelisahkan. Dua hingga tiga dasawarsa terakhir komik lokal Indonesia mengalami tantangan serius dari komik-komik Jepang, Eropa dan Amerika. Generasi muda saat ini lebih hafal dan mengagumi tokoh-tokoh superhero Barat atau Jepang ketimbang jagoan lokal seperti Arjuna atau Gatotkaca.

Kegelisahan itu mendorong selusin penggandrung komik wayang getol berkumpul di toko Hendra. Dihelat usai jam kantor, para ‘aktivis’ komik wayang asal Jakarta ini sepakat bertindak cepat. ”Kita tengah merintis pembentukan komunitas pencinta komik wayang Indonesia,” ujar Hendra. ”Ditargetkan Agustus 2007 kita launching,” lanjut dia.

Komunitas ini bertujuan mempertahankan, sekaligus menebar, kecintaan pada komik wayang. Lapisan generasi muda adalah sasaran utamanya. Hendra dan kawan-kawan sadar betul ini bukan cita-cita mudah. ”Pesaing kita adalah komik-komik mutakhir asal Jepang, Amerika, atau Eropa,” ia beralasan. ”Dalam hal penampilan grafis, komik wayang jelas kalah jauh,” ia mengakui.

Maka, salah satu wacana yang digulirkan para aktivis komik wayang ini adalah ide memodernkan komik-komik wayang. Caranya, dengan mereproduksi komik wayang gaya baru dengan penampilan lebih segar dan lebih hidup. Hendra merujuk sukses komikus Hong Kong, Tony Wong, pembikin serial komik laris Tiger Wong atau Tapak Sakti. Tak sedikit komik Wong yang berlatar kerajaan Cina abad pertengahan, namun Wong sukses menampilkannya dalam gaya kontemporer.

Konon, komik wayang modern sudah diterbitkan di Amerika Serikat (AS) yang diboyong oleh seorang warga India ke negeri itu. Dalam komik modifikasi itu figur Arjuna tampil jauh lebih keren. Aksi baku hantamnya juga lebih seru. Tanpa upaya ini, Hendra kurang yakin, komik wayang dapat diterima anak-anak remaja Indonesia. Terlebih mereka sudah dimanjakan ilustrasi mutakhir komik impor. Saat ini para aktivis pencinta komik wayang sedang mencari komikus yang bisa melakukan ‘modernisasi’ komik wayang.

Berawal dari Kecaman

Komik wayang bukan yang pertama hadir di negeri ini. Kelahiran komik wayang justru berawal dari kecaman.

* Sosok Put On
Komik pertama yang muncul di Indonesia bukan komik wayang. Pionirnya adalah komik strip karya Kho Wang Gie yang dimuat koran Sin Po pada 1931. Komik ini bercerita tentang sosok nasionalis Put On yang absurd. Dalam rentang dua dasawarsa pelbagai jenis komik menjamur, termasuk komik strip superhero asal AS seperti Flash Gordon, Superman, atau Rip Kirby.

* Kecaman itu
Pada 1954 komik-komik Barat dikecam. Juga imitasi komik Barat karya komikus Indonesia seperti Sri Asih, Kapten Kilat, atau Putri Bintang. Mereka dianggap tak mendidik. Ketidaksukaan terhadap komik Barat mendorong penciptaan komik yang bersumber pada budaya lokal. Maka lahirlah komik wayang.

* Bapak komik
RA Kosasih tercatat sebagai komikus wayang terdepan di Indonesia yang telah menelurkan lebih dari 150 komik wayang. Ia dijuluki Bapak Komik Indonesia. Terdapat pula nama beken di jagat komik wayang seperti S Ardisoma, Oerip S Ardina, Suherlan, NA Giok Lang, atau AR Rosadhy. Entah mengapa komik Mahabarata dan Ramayana RA Kosasih jauh lebih gemari. R A Kosasih kini tinggal di Rempoa, Jaksel.

* Antusiasme yang hilang
Komik wayang terutama diterbitkan penerbit asal Bandung yakni Melodie (bubar) dan Maranatha. Sebagai penerbit utama, Maranatha sempat kehilangan antusiasisme mencetak komik wayang terbaru. Selain itu ada pula penerbit asal Solo, Semarang, Surabaya dan Medan.

(imy )

edisi sabtu 19 mei 2007.

sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=293665&kat_id=460

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: