Vindo Comics, Pusat Komik Wayang dan Silat Indonesia. Jakarta Comic Center.

19 Juni, 2007

Artikel pada Republika, Minggu, 09 Desember 2001

Filed under: Uncategorized — vindocomic @ 10:27 pm

Raden Achmad Kosasih
Raja Komik yang Nrimo

Laki-laki kelahiran Bandongan, Bogor, pada 3 April 1919 ini masih terlihat sehat dan bugar. Ia mengaku penglihatan dan pendengarannya masih bagus di usia setua itu. “Mata saya masih bagus untuk melihat, telinga juga masih jelas mendengar. Cuma tangan saya sudah nggigil,” kata Raden Achmad Kosasih.

Kini, lelaki yang lebih dikenal dengan RA Kosasih ini, memang mengalami kesulitan untuk sekadar menuliskan namanya. Padahal, lima puluh tahun lalu, ribuan lembar halaman buku komik lahir dari kepiawaian jari-jari tangannya. Beberapa komik menjadi buku terlaris hingga kini, sehingga mengantarkannya ia menjadi komikus ternama di Indonesia.

Namun akibat tangannya yang ‘menggigil’ itu, sejak tahun 1990 Kosasih tak lagi bisa menelorkan karya-karya komik. “Enggak bisa nggambar lagi, abis tangan saya susah sekali,” tutur laki-laki berkacamata tebal dengan rambut memutih dan tipis ini. Padahal sebenarnya masih ada naskah asli yang sudah ia serahkan ke penerbit, tapi keburu bangkrut. “Seri wayang juga, tapi lupa judulnya,” kata suami Lili Karsilah (77) ini.

Kosasih mengatakan sejak berhenti menggambar justru semua penyakitnya hilang. “Soalnya enggak duduk lagi. Dulu hampir setiap hari saya minum obat maag,” ujar bungsu dari delapan bersaudara ini. Putra pedagang almarhum Raden Wirakusuma dan Sumarni ini pasrah saja kehilangan kesempatan untuk menyalurkan ekspresinya itu.

Bagi Kosasih tak bisa lagi menggambar atau duduk lama membuat komik di usai tua bukanlah sesuatu yang disesali. “Saya nrimo saja dengan keadaan. Tak bisa menggambar lagi tak saya pikirkan dalam-dalam, ya selesai saja,” tutur Kosasih yang kini menyalurkan hobi lainnya: membaca khasanah ilmu pengetahuan.

Dari kecil sudah senang menggambar, Kosasih kecil bercita-cita ingin jadi pelukis seperti Raden Saleh, Wijoyono dan lainnya. “Cuma saya senengnya bikin orang, potret. Kalau menggambar pemandangan di depannya selalu ada orang,” katanya. Sebelumnya ia tak membayangkan dirinya akan jadi komikus terkenal.

Sekalipun tak tergolong istimewa, kemampuan Kosasih dalam menggambar sudah terlihat ketika ia menjadi murid SD (1920) di Inlands School (sekolah rakyat) Bogor dan kemudian dilanjutkan ke Hollandsch Inlandsche School (HIS) Pasundan di kota yang sama. Selepas sekolah karir yang dipilihnya adalah menjadi juru gambar buku-buku terbitan Departemen Pertanian di Bogor mulai tahun 1939. Namun kemudian ia memutuskan keluar dari kantornya itu untuk lebih menekuni karir komiknya.

Pencipta komik Sri Asih (1952), Siti Gahara, Putri Bintang dan Garuda Putih ini menjadi legendaris berkat komik Mahabharata dan Baratayudha. Kedua karya monumentalnya itu yang membuatnya menjadi awet dikenang sebagai seorang komikus besar Indonesia. Bahkan setelah 50-an tahun sejak diterbitkan pertama kali, komik wayangnya itu telah mengalami cetak ulang berpuluh kali.

Menggambar wayang nampaknya sudah berurat nadi bagi pecinta wayang golek ini. “Hanya paling susah kalau menggambar Rahwana dan Arjuna, terlalu banyak asesorisnya. Yang gampang untuk digambar, sambungnya, adalah Semar, Cepot dan punakawan lainnya. Dulu sambil merem saja bisa,” ujar Kosasih.

Di usianya ke-83 tahun ini, Kosasih dan istrinya tinggal menumpang di rumah anak tunggalnya, Yudowati Ambiana, dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan deposito hasil penjualan rumah pribadinya beberapa tahun lalu. Royalti yang diperolehnya hanya untuk melengkapi kebutuhan yang ada. “Ya, untuk jajan cucu,” katanya.

Kosasih memang amat dekat dengan Adinandra (13), sang cucu semata wayang itu. “Pagi saja kalo mau wawancara, di atas pukul sepuluh siang saya mau jalan-jalan sama cucu saya,” ujarnya saat dihubungi untuk janji wawancara. Sejak saat Adinandra masih sekolah di TK, SD hingga sekarang ia memang sering mengajak bepergian naik kendaraan umum.

Kepada wartawan Republika Ratu Ratna Damayani dan Darmawan di tempat tinggalnya sekarang di kawasan Rempoa, Tangerang, Banten, pekan lalu, Kosasih menuturkan perjalanan hidupnya sebagai komikus. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda memilih menjadi komikus?
Bapak sih dari kecil sudah bisa bikin komik. Bapak dari kecil sudah bisa menggambar, terutama gambar orang. Gambar pemandangan juga bisa, tapi lebih suka gambar orang. Biasanya bapak gambar orang dulu baru nanti dikasih pemandangan. Kemudian bapak bekerja di kantor pertanian. Disitu bapak juga sering menggambar, seperti tanaman dan penyakit-penyakitnya. Sembari itu, tahun 1941 bapak juga mulai bikin komik kecil-kecilan ya buat sendiri saja dan belum disebarkan. Saya terus menggambar hingga terkumpul banyak sekali di rumah gambar macam-macam. Gambar-gambar itu tetap saya simpan sampai sekarang.
Tahun 1953 saya membaca iklan di suratkabar Pedoman di Bandung dicari ahli komik yang bisa melukis Flash Gordon, kayak begitu. Wah, jaman itu jarang-jarang ada orang bisa. Bapak langsung kirim contoh gambar kesana. Ya, saya kirim saja sambil main-main. Enggak lama datang orang dari Bandung bersama penerbit Melody waktu itu. Sudah saja, mereka langsung memesan saya untuk bikin gambar-gambar seperti yang diinginkan.

Pertama kali Anda dibayar berapa?
Bapak sudah lupa. Pokoknya lebih banyak ketimbang gaji dari kantor. Gaji saya dulu Rp 300. Sekali menggambar saya dapat Rp 1.000. Dulu sih bisa layak hidup sebagai komikus, enggak tahu sekarang, ya.

Dipakai untuk apa honor menggambar itu?
Ya, bapak kumpulin saja. Waktu itu bapak sudah punya anak satu. Ya, begitulah. Hanya saja, saya kan masih kerja di kantor, jadi capai sekali rasanya. Seharian di kantor dan malamnya mesti menggambar. Konsentrasi suka terpecah-pecah. Apalagi saya juga mengarang komik Sri Asih itu sendiri. Wah, pikiran saya jadi terbebani dan beban itu jadi penyakit buat saya. Karena saya tak tahan hidup seperti itu, maka saya berhenti saja dari kantor.

Pensiun dini, begitu ya?
Ya, minta berhenti saja. Waktu itu saya sedang mengerjakan komik Mahabharata dan butuh konsentrasi sekali. Sebetulnya saya bisa dapat pensiun, tapi saya enggak ada tempo untuk mengurusnya. Lagian pensiun dulu itu enggak cukup buat hidup. Jauh kalau dibanding jadi komikus, bisa hidup memadai. Pemerintah sekarang ini saja bikin perubahan soal pensiun.

Kenapa Anda lebih memilih berhenti bekerja di kantor?
Ya, suasananya kan lain antara bekerja di kantor dengan menggambar. Kalau bekerja di kantor saya terikat. Kalau menggambar saya jadi lebih bebas. Selain itu, honornya juga lebih besar dengan menggambar. Kalau saya enggak keluar dari kantor, wah enggak akan bisa saya mengerjakan Mahabharata itu. Dua tahun saya mengerjakan komik itu, duduk terus menggambar tiap hari. Kalau saya tetap ngantor, wah enggak bisa itu.

Bagaimana dengan royalti Anda?
Enggak bisa hidup hanya mengandalkan royalti, kecuali kalau sudah dijamin dan sudah ada undang-undangnya. Kalau di luar negeri sudah dijamin soal royalti itu. Sekarang aja sudah ada hak cipta, jaman bapak dulu belum ada. Royalti itu juga tergantung penjualan, kalau terjualnya sedikit ya dapatnya juga sedikit. Sekarang Mahabharata dicetak lagi ya lumayan dapatnya buat sehari-hari karena saya enggak ada pensiun.

Komik apa yang terlama dan paling sulit dikerjakan?
Ya, Mahabharata itu. Lalu Bharatayudha yang jadi satu dengan Mahabharata. Lalu juga Pendawa Seda.

Mengapa butuh waktu lama dan lebih sulit digarap?
Kesulitannya, kalau badan ini tak dijaga betul-betul saya bisa sakit. Saya bisa sakit sesak dan sukar buang air besar karena kebanyakan duduk. Juga saya kena maag. Kalau sudah menggambar, saya bisa duduk terus dari pagi sampai malam.

Bukannya menggambar itu pekerjaan yang disenangi, kok malah jadi penyakit?
Ya, pikiran saya sih rileks saja, tapi badan saya tak bisa dibohongi. Dari pukul enam pagi saya sudah menggambar hingga berhenti 12 siang untuk makan dan tidur sebentar lalu menggambar lagi sampai maghrib untuk mandi dan makan. Setelah itu ya kerja lagi.

Sempat diremehkan orang karena membuat komik wayang?
Oh, enggak ada itu, malah orang-orang itu kayaknya bangga ada komik wayang. Dan saya sering dikatain, eh itu rumahnya si raja komik. Komik dulu, jamannya Orde Lama belum inflasi populer sekali, bisa sesuai dengan masyarakat.

Sudah berapa komik-komik Anda dicetak dan berapa kali yang cetak ulang?
Waduh, saya enggak tahu. Saya hanya pelukis, itu urusan penerbit.

Persisnya sudah berapa judul komik yang Anda buat?
Banyak itu judulnya, enggak kehitung. Lupa bapak ini. Karya saya paling besar dan panjang itu Mahabharata. Ya, untunglah buat saya kebetulan bikin cerita wayang. Saya bangga banyak yang senang dengan cerita ini. Memang, tak gampang bikin karakter wayang, harus tahu satu persatu tokohnya. Saya sih dari kecil senangnya sama Gatotkaca karena gagah, jagoan bisa dapat terbang. Kalau Arjuna saya enggak senang, dari kecil saya sudah anti soalnya tukang kawin. Orang juga enggak ada yang senang sama Arjuna.

*****

Komik Anda dibaca orang sampai 50 tahun kemudian sejak diterbitkan pertama kali. Bagaimana perasaan Anda?
Terus terang, ya senang saja. Begitu saja ya senang. Saya tak nyangka komik saya bisa awet begitu dibaca orang. Artinya ini anugerah Tuhanlah. Soal uangnya sih tak ada, tak begitu banyak. Cukup buat hidup saja. Kalau kaya si enggak, kecuali penerbitnya.

Bagaimana rasanya jadi orang populer?
Ah, biasa saja. Saya suka menegur istri saya kalau dia suka ngomong-ngomong saya yang bikin komik-komik itu. Enggak usahlah dipamer-pamerkan. Ada juga rasa bangga dulunya bikin komik kayak begitu saja. Enggak sangka kalau komik saya bisa dikenal begini.

Komik wayang ini pesanan penerbit atau inisiatif sendiri?
Kebetulan sejak kecil saya suka nonton wayang golek. Dari kecil juga saya senang menggambar wayang, padahal waktu itu belum bersekolah. Nah, waktu bikin komik ya komik wayang. Karakter-karakter wayang saya sudah tahu. Jadi, sebelum dipesan penerbit saya sudah punya bahan banyak.

Darimana bahan-bahan yang diperoleh untuk membuat komik wayang itu?
Ya, selain tahu cerita wayang dari nonton wayang golek, juga dapat dari buku. Ada buku tentang wayang dari India yang diterbitkan Balai Pustaka, cuma teks saja tak ada gambarnya. Jaman Belanda dulu buku itu sudah ada, tapi orang tak mau membacanya. Kisah Ramayana juga sudah ada dulu, tapi tak diperhatikan orang. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, bahasa Indonesia, bahasa Sunda dan sepertinya ada juga bahasa Jawa. Sebenarnya orang-orang di jaman saya sudah tahu dan senang sama wayang lewat wayang golek itu, cuma tak baca bukunya. Ancer-ancer saya, sebelum bikin Mahabharata, merasa orang bakal senang kalau ada komiknya. Soalnya tahun 1950-an itu orang pada suka wayang golek. Baru pada jaman kini ya sudah saja kesenangan itu pada anak-anak apalagi setelah ada televisi. Dulu memang tak ada hiburan lain selain wayang golek.

Jadi komik yang Anda buat mencontoh persis cerita yang ada pada buku-buku Balai Pustaka itu?
Ya, sebundel cerita Mahabharata sampai Pendawa Seda saya dapatkan dari buku-buku itu. Tapi, dialog-dialog dalam komiknya itu buatan saya sendiri. Wah, kalau ngikutin buku itu dialognya berat, punya bapak lebih luwes. Kalau baca bukunya itu sendiri orang bisa tak tertarik. Makanya, orang dulu tak tahu cerita wayang. Baru setelah ada komik Mahabharata orang baru tahu kalau asal cerita wayang golek itu dari India.

Sebelumnya Anda bikin komik selain wayang?
Itu berhubungan dengan pasar. Ya, percuma bapak bikin komik wayang kalau penerbit tak mau menerbitkannya. Awalnya, bapak coba bikin komik Ramayana dulu, kok orang jadi ramai membacanya lantas baru bikin Mahabharata itu. Sebelumnya, penerbit menanyakan apa ya cerita wayang yang panjang sehingga bisa banyak komik yang diterbitkan ?. Saya bilang ya cerita Mahabharata itu.

Mahabharata jadi komik terlaris. apa saja hasilnya untuk Anda?
Ya, hasilnya enggak seberapa. Buat istri saya semuanya. Ya, kebutuhan orang hiduplah. Saya kerjanya cuma begitu, pelukis saja, tak seperti ahli dagang. Ya, bisa dapat rumah dan cukup untuk makan. Dan rumah itu juga sudah dijual lagi. Mobil dulu belum ada. Ya, paling-paling hiburan saya dulu nonton bioskop lihat bintang film John Wayne, Eva Gardner. Saya senang nonton film soalnya suka ada inspirasi buat menggambar.

Siapa yang jadi model desain karakter komik-komik Anda?
Enggak ada model-modelan, ya sudah begitu saja jadi gambarnya. Tadinya gambar-gambar saya berasal dari kesenangan saya pada cerita Flash Gordon dari Amerika. Tapi, saya tak meniru profil orang Barat, hanya corak-corakannya saja. Profil tokoh saya hanya imajinasi saja. Boleh diperhatikan, malah kebanyakan komikus itu wajah tokoh-tokohnya hampir mirip dengan dirinya sendiri. Modelnya Jan (Jan Mintaraga-red) juga mirip dirinya, model Ganesh (Ganesh TH-red). Saya sendiri mungkin mirip diri saya juga. Kata orang juga begitu. Saya sudah tua begini ya tak mirip dengan tokoh komik saya, dulu waktu masih muda, he, he, he. Enggak tahu ya kok bisa jadi mirip dengan pelukisnya sendiri, intuisi barangkali ya. Hampir semuanya tuh pelukis kayak begitu.

Darah seni menggambar Anda datang darimana?
Ya, ada dari ibu saya. Buyut dari ibu saya masih bersaudara dengan pelukis Raden Saleh Bastaman dari Semarang. Raden Saleh itu punya adik, buyut ibu saya itu, namanya Syarif Durahman. Dulu ceritanya, kalau buyut itu pergi ke rumah Raden Saleh di Jakarta dari Bogor selalu naik andong.

Sekarang apa kegiatan Anda sehari-hari?
Ya, kerja apa saja, pokoknya jangan sampai enggak gerak. Cuci piring, bersih-bersih ayo saja. Sampai sekarang saya masih terbiasa cuci baju sendiri. Kenapa baju sendiri dicuci orang lain, dari dulu saya juga sudah biasa cuci sendiri, apalagi sekarang tak ada pembantu. Ada pembantu juga saya cuci sendiri daripada ribut-ribut. Saya enggak mau menyusahkan orang lain, juga supaya badan saya gerak. Kemana-mana sekarang saya pergi sama cucu. tak olahraga. Hanya bangun pagi-pagi. bahkan kalau sahur saya yang menyiapkan segala sesuatunya, menghangatkan makanan, baru kalau sudah beres saya bangunkan semuanya.
Penyakit saya hilang setelah saya berhenti bikin komik. soalnya enggak duduk lagi. obat maag hampir tiap hari. kalau enggak menggambar apa tak kehilangan ekspresi? Saya berusaha nrimo dengan keadaan. Tak saya pikirkan hal itu dalam-dalam ya selesai saja. hobi lain adalah membaca khasanah ilmu pengetahuan.

Anda tampak santai saja di usai tua ini. Apa filosofi hidup Anda?
Manusia itu harus bisa nrimo. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan kita tinggal menjalani dan menghadapinya saja. Laa hawlaquata ilah billah sajalah. Saya sudah merasa puas dengan kehidupan yang saya jalani ini. Rasanya keinginan saya untuk jadi tukang gambar tercapai dengan jadi komikus ini. Orang kalau tak bisa nrimo itu susah dan gelisah.

Apa cita-cita Anda sebenarnya sewaktu kecil?
Dari kecil saya sudah senang menggambar sehingga ingin jadi pelukis seperti Raden Saleh, Wijoyono. Cuma saya senengnya bikin orang, potret kalau menggambar pemandangan di depannya selalu ada orang. Sebelumnya enggak terbayang jadi komikus. Saya hanya sekolah rakyat di jaman Belanda tahun 1920-an.

Apa pandangan Anda tentang derasnya komik asing masuk ke Indonesia?
Sebenarnya bagus saja kalau kita bisa mengambil inspirasi dari komik-komik asing itu. Sebab, kalau mau ditolak juga enggak bisa. Kita harus bisa mengimbanginya. Dulu tahun 1950-an komik asing juga banyak, kita lantas bikin komik sendiri dan terpuruk tuh komik asing. Semua orang beli komik kita ya mungkin karena baru muncul dan berbahasa Indonesia sehingga orang langsung mengerti ceritanya. Barangkali karena komik asing sekarang itu diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sehingga semakin kuat menyaingi komik buatan kita sendiri. Komik dulu ceritanya bisa terinspirasi komik asing, tapi gambarnya bikinan kita sendiri. Sementara sekarang banyak komik kita yang gambarnya meniru komik asing.

Menurut Anda bagaimana supaya komik kita dapat menyaingi komik asing?
Aduh, saya tak tahu, apalagi saya sudah kurang pemandangan, kurang bergaul. Saya juga sudah jarang datang ke toko buku.

Menurut Anda apakah komikus lokal bisa membuat komik bermutu?
Susah kalau tak dibantu pemerintah. Padahal komikus-komikus muda sekarang itu potensial, pinter-pinter. Mereka sudah lain sama jaman saya. Dulu kebanyakan komikus hanya lulusan sekolah rakyat, sekarang sudah akademi. Komik-komik luarnegeri itu bisa maju juga karena didukung pemerintahnya.

sumber:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=55833&kat_id=85&kat_id1=&kat_id2=

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: