Karena hobi, Hendra Wijaya setia menguber-uber komik. Setelah cukup lama, ia merasa ikut bertanggung jawab untuk membangkitkan komik Indonesia. Tetapi dari sana ia menangkap peluang bisnis. Jadilah hobi yang menghasilkan uang.
Di masa kanak-kanaknya Hendra suka membaca komik. Ia membaca komik apa saja. Tapi baru 2 tahun terakhir Hendra melihat bahwa komik dapat dijadikan lahan bisnis.
“Bukan semata-mata bisnis. Idealnya saya ingin membangkitkan komik Indonesia yang pernah berjaya. Selain itu belum banyak yang menggarap komunitas dan pecinta komik,” ujar pemilik kios VindoComics, Jakarta Comics Center di Plaza Semanggi itu.
BERGERILYA MENCARI KOMIK
Melihat komik punya pangsa pasar tersendiri, mulailah Hendra bergerilya mencari penerbit untuk menerbitkan ulang komik yang kebanyakan keluaran tahun 1950-an itu. “Suatu kali saya bertemu dengan seorang lanjut usia yang sangat suka komik, dia sudah tua dan karena tidak ada yang meneruskannya, saya tertarik dan berani nyoba untuk bergelut dalam dunia komik.”
Alumnus Bina Nusantara ini melihat bahwa meski usia penikmat dan pencinta komik berusia 40 tahun ke atas. Ia masih berupaya membidik pasar lain. Anak-anak para pecinta komik dan masyarakat umum menjadi sasarannya. “Biasanya mereka juga akan mewariskan komik-komik yang ada pada anak cucunya, mereka itu bisa dikembangkan menjadi sasaran potensial,” ujarnya antusias.
Dari situ kemudian muncul ide-ide baru untuk memasyarakatkan komik seperti mengangkat isi cerita Alkitab dalam bentuk komik.Selain itu Hendra juga berniat melebarkan sayap ke penerbitan komik. Belakangan, cukup banyak komik yang dimasukkan ke dalam buku pelajaran. Hendra juga pernah melihat banyak kartu undangan pernikahan yang “isinya” komik. “Karena komik lebih komunikatif,” ujarnya. Ia sepakat komik dipakai untuk berbagai ajang promosi dan wahana pengetahuan.
Demi mewujudkan harapannya membangunkan komik Indonesia ia pun serius mengadakan berbagai acara bersama para pecinta komik tengah. “Selama ini kami bertukar informasi. Misalnya lewat media online Komik Indonesia. Sekarang baru akan dibuat organisasi untuk pecinta komik. Kami juga akan membuat acara-acara untuk mempromo-sikan komik Indonesia,” katanya.
JALAN UNTUK KOMIK
Kolektor perangko ini yakin bahwa la-han komik masih besar. Terbukti lewat banyaknya komik yang dicetak ulang dan pembeli yang datang ke tokonya. “Komik Tonny Wong, gambarnya hitam putih tapi bagus dan sudah cetak ulang, saking lakunya,” ujar Hendra. Kenyataan bahwa komik diminati oleh masyarakat membuat dirinya berburu hingga ke tukang loak. Pernah ia sendiri datang membongkar sebuah gudang tua untuk satu kardus komik tua terbitan 1950-an.
Hendra punya prinsip, kalau bukan orang Indonesia siapa lagi yang akan menghidupkan komik Indonesia seperti Wayang yang berisi cerita Ramayana, Super Hero (Godam) atau pun cerita rakyat lainnya. “Komik wayang ini saya baca pertama kali. Kisahnya seru, lucu dan ada nilai-nilai yang merefleksikan kehidupan nyata. Kalau pun tidak ada nilainya, paling tidak dari segi gambar saja sudah sangat menghibur,”ungkap pria yang memiliki 70 judul komik di kiosnya itu.Jemaat Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) Jakarta itu berharap dapat membuat komik berpartner dengan orang yang dapat menggambar. Ia sendiri tidak bisa menggambar. “Kalau di luar negeri ada yang hanya menulis naskah atau gambarnya saja. Tapi di Indonesia semisal, R.A. Kosasih, dia yang membuat gambar, dia juga yang menulis naskahnya,” ujar Hendra.
sumber : http://www.bahana-magazine.com/?p=productsMore&iProduct=170&sName=Hendra-Wijaya–Membangkitkan-Komik-Indonesia
Bahana Edisi July.