Vindo Comics, Pusat Komik Wayang dan Silat Indonesia. Jakarta Comic Center.

19 Juni, 2007

Wawancara Vindo Comic oleh Republika

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vindocomic @ 10:29 pm

Mencintai Komik Wayang

Pencintanya bukan hanya orang-orang yang bernostalgia.

Jika bukan lantaran komik wayang, belum tentu ia mau naik turun eskalator. Usianya telah 80 tahun. Langkahnya sudah tertatih. Ke sebuah toko buku berukuran 3×4 meter di lantai dua Plaza Semanggi, Jakarta, sang kakek memaksakan diri pergi.

Sang kakek dulunya penggandrung komik semisal Mahabharata, Ramayana, atau Pandawaseda, komik epos dunia perwayangan yang terbit sejak dasawarsa 1950-an di Indonesia.

Sebuah kabar mampir ke telinganya soal keberadaan toko khusus komik wayang di Plaza Semanggi. Sang kakek agaknya tak perlu berpikir dua kali untuk segera menyambangi meski ia harus datang digandeng istrinya. Sekadar membunuh kerinduan masa remaja.

”Komik wayang memang komik nostalgia,” kata Hendra Wijaya (28 tahun), pemilik toko buku komik wayang Vindo sekaligus kolektor komik-komik wayang.

Herman merekam ada lebih dari 300 orang yang tercatat di buku tamu sejak gerainya dibuka setahun lalu. Dari jumlah itu, sebagian adalah para orang tua. ”Malah ada yang (berumur) 85 tahun,” cerita dia. ”Seperti kakek tadi.” Merdy Kanto Batangtaris (54) termasuk penggemar komik wayang generasi pertama. Sejak kelas tiga SD, pada awal 1960-an, Merdy sudah tergila-gila pada komik Mahabharata karya penulis legendaris R A Kosasih. ”Pada masa itu gambar-gambar grafis komik wayang sudah tergolong mutakhir. Bayangkan, para komikus mengerjakannya secara manual,” tutur dia. ”Ceritanya pun seru,” ia beralasan.

Empat dasawarsa berlalu dan kini Merdy telah menjadi kolektor dari 100-an komik-komik wayang langka. Tersimpan rapi di kediamannya di bilangan Petukangan, Jakarta Selatan, koleksi komik-komik Merdy terdiri dari terbitan pertama tahun 1960-an yang sebagian besar sudah punah. Istilahnya, komik collector item. ”Kalau edisi cetak ulang, terus terang, saya enggak doyan,” tutur dia.

Ada seri Gatot Kaca Sewu atau epos fenomenal Mahabharata edisi perdana-nya R A Kosasih. Termasuk karya pertama S Ardisoma, Oerip S Ardina, atau John Loo. Ada pula edisi terbatas Pandawaseda. Komik-komik baheula ini seluruhnya berbahan kertas koran berwarna kecokelat-cokelatan. Bahasa yang digunakan pun masih ejaan lama. Lantaran langka, Merdy merawatnya dengan sangat apik. Buku-buku ini ia bungkus plastik dan ia taburi silica gel untuk menangkal hawa lembab. Menurut Merdy, kerusakan buku-buku kuno di Indonesia sebagian besar adalah akibat hawa lembab.

Di Indonesia, kata Merdy, teknologi perawatan buku-buku kuno dimiliki Arsip Nasional Indonesia. Tapi ongkosnya lumayan tinggi. Merdy mengaku bisa memprediksi sebuah buku akan rusak (akibat hawa lembab) dalam tiga tahun mendatang. ”Buku-buku ini biasanya saya jual,” kata dia.

Komik asing
Tak hanya komik lokal, koleksi Merdy termasuk pula komik wayang dari India, negeri pusat cerita perwayangan.

Tapi, belakangan ada seorang kolektor yang luar biasa ngebet pada komik berbahasa Inggris ini. Merdy enggak tega. ”Ya, sudah saya lepas,” kata dia seraya menyebut ada pula komik wayang versi Kamboja yang dimiliki seorang kolektor di Jakarta.

Salah satu koleksi yang sempat ia jual adalah dua set komik Mahabharata generasi awal yang terdiri dari 40 buku. Tiga tahun lalu, Merdy melepasnya Rp 2 juta. Saat ini ia menduga harganya sudah mencapai Rp 4-5 jutaan.

Sebagai kolektor tulen, ”Hingga kini saya masih berburu komik-komik wayang,” ujar dosen mata kuliah sejarah seni dan budaya Indonesia di Universitas Bina Nusantara dan Universitas Pelita Harapan Jakarta ini. Sebagai kolektor sejati juga, Merdy tak segan untuk berjejalan atau jongkok di lapak-lapak kios buku kuno.

Malah, tukang buku loak di sekitar rumahnya sudah hafal betul. ”Kalau memperoleh komik wayang lama, mereka pasti langsung antar ke rumah,” cerita dia.

Soal perburuan komik-komik wayang lama, Merdy telah melebarkan sayapnya ke nyaris seluruh kota-kota besar di pulau Jawa. Memang tak ada waktu berburu khusus. ”Tapi, begitu saya tiba di sebuah kota. Saya selalu meluangkan waktu untuk sekadar berburu komik wayang kuno di toko-toko buku loak,” kata Merdy yang kerap didaulat menjadi pembicara seminar tentang komik wayang.

Namun, Merdy tidak sendiri. Pencinta komik wayang rupanya tidak hanya para orang tua yang bernostalgia. Anomali selalu memiliki ruangnya sendiri. Saban seminggu sekali, toko buku Hendra selalu dikunjungi dua orang bocah berusia tujuh dan delapan tahun kolektor komik-komik wayang. Bocah yang pertama kebetulan anak seorang dalang di Jakarta. Sementara bocah kedua mengaku tak doyan komik Jepang atau Barat. Alasannya,”Ia kerap diceritakan kisah-kisah wayang oleh bapaknya,” tutur Hendra.

Sarat Nilai Filosofis

Bagi Hendra Wijaya, salah satu alasan komik wayang menarik adalah kandungan pesan-pesan moral di dalamnya. Pada kisah Ramayana, misalnya, sang tokoh Rama sempat ditantang pertanyaan: Mengapa para dewa menciptakan tokoh jahat seperti Rahwana, yang semata membikin kerusakan di muka Bumi? Rama menjawab,”Tanpa kerusakan, maka takkan ada perbaikan. Tanpa kejahatan, tak ada kebaikan.”

Begitu pula Medry. Kisah-kisah dalam wayang, menurut dia, menggambarkan karakter beragam manusia. Ada yang licik, jujur, atau ksatria. Kisah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa dalam epos Mahabharata adalah tema membumi yang merepresentasikan kehidupan politik yang pelik. Dalam gonjang-ganjing politik, tokoh Kumbakarna (Ramayana) atau Dipatikarna (Mahabharata) adalah tipikal manusia nasionalis (baca : ksatria) yang berani mengatakan,”Right or wrong is my country,” tuturnya.

Sebagai akademisi, Merdy tak sekadar ‘menikmati’ komik wayang sebagai sebuah karya seni ilustrasi an sich. Komik wayang juga memiliki dimensi lain seperti politik, sejarah, dan budaya yang kental dan saling kait-mengait. Komik wayang ini memiliki konfigurasi tema yang kaya dan luas. Sebagai sebuah karya seni, misalnya, komikus wayang mesti mendasarkan kreasi-kreasinya pada pakem-pakem dunia perwayangan, seperti busana, bentuk senjata, dan karakter fisik para lakon-lakonnya.

Membuat Arjuna yang Keren

Apakah pamor komik wayang akan kian tenggelam dan kehilangan penggemarnya?
Pertanyaan ini memang menggelisahkan. Dua hingga tiga dasawarsa terakhir komik lokal Indonesia mengalami tantangan serius dari komik-komik Jepang, Eropa dan Amerika. Generasi muda saat ini lebih hafal dan mengagumi tokoh-tokoh superhero Barat atau Jepang ketimbang jagoan lokal seperti Arjuna atau Gatotkaca.

Kegelisahan itu mendorong selusin penggandrung komik wayang getol berkumpul di toko Hendra. Dihelat usai jam kantor, para ‘aktivis’ komik wayang asal Jakarta ini sepakat bertindak cepat. ”Kita tengah merintis pembentukan komunitas pencinta komik wayang Indonesia,” ujar Hendra. ”Ditargetkan Agustus 2007 kita launching,” lanjut dia.

Komunitas ini bertujuan mempertahankan, sekaligus menebar, kecintaan pada komik wayang. Lapisan generasi muda adalah sasaran utamanya. Hendra dan kawan-kawan sadar betul ini bukan cita-cita mudah. ”Pesaing kita adalah komik-komik mutakhir asal Jepang, Amerika, atau Eropa,” ia beralasan. ”Dalam hal penampilan grafis, komik wayang jelas kalah jauh,” ia mengakui.

Maka, salah satu wacana yang digulirkan para aktivis komik wayang ini adalah ide memodernkan komik-komik wayang. Caranya, dengan mereproduksi komik wayang gaya baru dengan penampilan lebih segar dan lebih hidup. Hendra merujuk sukses komikus Hong Kong, Tony Wong, pembikin serial komik laris Tiger Wong atau Tapak Sakti. Tak sedikit komik Wong yang berlatar kerajaan Cina abad pertengahan, namun Wong sukses menampilkannya dalam gaya kontemporer.

Konon, komik wayang modern sudah diterbitkan di Amerika Serikat (AS) yang diboyong oleh seorang warga India ke negeri itu. Dalam komik modifikasi itu figur Arjuna tampil jauh lebih keren. Aksi baku hantamnya juga lebih seru. Tanpa upaya ini, Hendra kurang yakin, komik wayang dapat diterima anak-anak remaja Indonesia. Terlebih mereka sudah dimanjakan ilustrasi mutakhir komik impor. Saat ini para aktivis pencinta komik wayang sedang mencari komikus yang bisa melakukan ‘modernisasi’ komik wayang.

Berawal dari Kecaman

Komik wayang bukan yang pertama hadir di negeri ini. Kelahiran komik wayang justru berawal dari kecaman.

* Sosok Put On
Komik pertama yang muncul di Indonesia bukan komik wayang. Pionirnya adalah komik strip karya Kho Wang Gie yang dimuat koran Sin Po pada 1931. Komik ini bercerita tentang sosok nasionalis Put On yang absurd. Dalam rentang dua dasawarsa pelbagai jenis komik menjamur, termasuk komik strip superhero asal AS seperti Flash Gordon, Superman, atau Rip Kirby.

* Kecaman itu
Pada 1954 komik-komik Barat dikecam. Juga imitasi komik Barat karya komikus Indonesia seperti Sri Asih, Kapten Kilat, atau Putri Bintang. Mereka dianggap tak mendidik. Ketidaksukaan terhadap komik Barat mendorong penciptaan komik yang bersumber pada budaya lokal. Maka lahirlah komik wayang.

* Bapak komik
RA Kosasih tercatat sebagai komikus wayang terdepan di Indonesia yang telah menelurkan lebih dari 150 komik wayang. Ia dijuluki Bapak Komik Indonesia. Terdapat pula nama beken di jagat komik wayang seperti S Ardisoma, Oerip S Ardina, Suherlan, NA Giok Lang, atau AR Rosadhy. Entah mengapa komik Mahabarata dan Ramayana RA Kosasih jauh lebih gemari. R A Kosasih kini tinggal di Rempoa, Jaksel.

* Antusiasme yang hilang
Komik wayang terutama diterbitkan penerbit asal Bandung yakni Melodie (bubar) dan Maranatha. Sebagai penerbit utama, Maranatha sempat kehilangan antusiasisme mencetak komik wayang terbaru. Selain itu ada pula penerbit asal Solo, Semarang, Surabaya dan Medan.

(imy )

edisi sabtu 19 mei 2007.

sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=293665&kat_id=460

Artikel pada Republika, Minggu, 09 Desember 2001

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vindocomic @ 10:27 pm

Raden Achmad Kosasih
Raja Komik yang Nrimo

Laki-laki kelahiran Bandongan, Bogor, pada 3 April 1919 ini masih terlihat sehat dan bugar. Ia mengaku penglihatan dan pendengarannya masih bagus di usia setua itu. “Mata saya masih bagus untuk melihat, telinga juga masih jelas mendengar. Cuma tangan saya sudah nggigil,” kata Raden Achmad Kosasih.

Kini, lelaki yang lebih dikenal dengan RA Kosasih ini, memang mengalami kesulitan untuk sekadar menuliskan namanya. Padahal, lima puluh tahun lalu, ribuan lembar halaman buku komik lahir dari kepiawaian jari-jari tangannya. Beberapa komik menjadi buku terlaris hingga kini, sehingga mengantarkannya ia menjadi komikus ternama di Indonesia.

Namun akibat tangannya yang ‘menggigil’ itu, sejak tahun 1990 Kosasih tak lagi bisa menelorkan karya-karya komik. “Enggak bisa nggambar lagi, abis tangan saya susah sekali,” tutur laki-laki berkacamata tebal dengan rambut memutih dan tipis ini. Padahal sebenarnya masih ada naskah asli yang sudah ia serahkan ke penerbit, tapi keburu bangkrut. “Seri wayang juga, tapi lupa judulnya,” kata suami Lili Karsilah (77) ini.

Kosasih mengatakan sejak berhenti menggambar justru semua penyakitnya hilang. “Soalnya enggak duduk lagi. Dulu hampir setiap hari saya minum obat maag,” ujar bungsu dari delapan bersaudara ini. Putra pedagang almarhum Raden Wirakusuma dan Sumarni ini pasrah saja kehilangan kesempatan untuk menyalurkan ekspresinya itu.

Bagi Kosasih tak bisa lagi menggambar atau duduk lama membuat komik di usai tua bukanlah sesuatu yang disesali. “Saya nrimo saja dengan keadaan. Tak bisa menggambar lagi tak saya pikirkan dalam-dalam, ya selesai saja,” tutur Kosasih yang kini menyalurkan hobi lainnya: membaca khasanah ilmu pengetahuan.

Dari kecil sudah senang menggambar, Kosasih kecil bercita-cita ingin jadi pelukis seperti Raden Saleh, Wijoyono dan lainnya. “Cuma saya senengnya bikin orang, potret. Kalau menggambar pemandangan di depannya selalu ada orang,” katanya. Sebelumnya ia tak membayangkan dirinya akan jadi komikus terkenal.

Sekalipun tak tergolong istimewa, kemampuan Kosasih dalam menggambar sudah terlihat ketika ia menjadi murid SD (1920) di Inlands School (sekolah rakyat) Bogor dan kemudian dilanjutkan ke Hollandsch Inlandsche School (HIS) Pasundan di kota yang sama. Selepas sekolah karir yang dipilihnya adalah menjadi juru gambar buku-buku terbitan Departemen Pertanian di Bogor mulai tahun 1939. Namun kemudian ia memutuskan keluar dari kantornya itu untuk lebih menekuni karir komiknya.

Pencipta komik Sri Asih (1952), Siti Gahara, Putri Bintang dan Garuda Putih ini menjadi legendaris berkat komik Mahabharata dan Baratayudha. Kedua karya monumentalnya itu yang membuatnya menjadi awet dikenang sebagai seorang komikus besar Indonesia. Bahkan setelah 50-an tahun sejak diterbitkan pertama kali, komik wayangnya itu telah mengalami cetak ulang berpuluh kali.

Menggambar wayang nampaknya sudah berurat nadi bagi pecinta wayang golek ini. “Hanya paling susah kalau menggambar Rahwana dan Arjuna, terlalu banyak asesorisnya. Yang gampang untuk digambar, sambungnya, adalah Semar, Cepot dan punakawan lainnya. Dulu sambil merem saja bisa,” ujar Kosasih.

Di usianya ke-83 tahun ini, Kosasih dan istrinya tinggal menumpang di rumah anak tunggalnya, Yudowati Ambiana, dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan deposito hasil penjualan rumah pribadinya beberapa tahun lalu. Royalti yang diperolehnya hanya untuk melengkapi kebutuhan yang ada. “Ya, untuk jajan cucu,” katanya.

Kosasih memang amat dekat dengan Adinandra (13), sang cucu semata wayang itu. “Pagi saja kalo mau wawancara, di atas pukul sepuluh siang saya mau jalan-jalan sama cucu saya,” ujarnya saat dihubungi untuk janji wawancara. Sejak saat Adinandra masih sekolah di TK, SD hingga sekarang ia memang sering mengajak bepergian naik kendaraan umum.

Kepada wartawan Republika Ratu Ratna Damayani dan Darmawan di tempat tinggalnya sekarang di kawasan Rempoa, Tangerang, Banten, pekan lalu, Kosasih menuturkan perjalanan hidupnya sebagai komikus. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda memilih menjadi komikus?
Bapak sih dari kecil sudah bisa bikin komik. Bapak dari kecil sudah bisa menggambar, terutama gambar orang. Gambar pemandangan juga bisa, tapi lebih suka gambar orang. Biasanya bapak gambar orang dulu baru nanti dikasih pemandangan. Kemudian bapak bekerja di kantor pertanian. Disitu bapak juga sering menggambar, seperti tanaman dan penyakit-penyakitnya. Sembari itu, tahun 1941 bapak juga mulai bikin komik kecil-kecilan ya buat sendiri saja dan belum disebarkan. Saya terus menggambar hingga terkumpul banyak sekali di rumah gambar macam-macam. Gambar-gambar itu tetap saya simpan sampai sekarang.
Tahun 1953 saya membaca iklan di suratkabar Pedoman di Bandung dicari ahli komik yang bisa melukis Flash Gordon, kayak begitu. Wah, jaman itu jarang-jarang ada orang bisa. Bapak langsung kirim contoh gambar kesana. Ya, saya kirim saja sambil main-main. Enggak lama datang orang dari Bandung bersama penerbit Melody waktu itu. Sudah saja, mereka langsung memesan saya untuk bikin gambar-gambar seperti yang diinginkan.

Pertama kali Anda dibayar berapa?
Bapak sudah lupa. Pokoknya lebih banyak ketimbang gaji dari kantor. Gaji saya dulu Rp 300. Sekali menggambar saya dapat Rp 1.000. Dulu sih bisa layak hidup sebagai komikus, enggak tahu sekarang, ya.

Dipakai untuk apa honor menggambar itu?
Ya, bapak kumpulin saja. Waktu itu bapak sudah punya anak satu. Ya, begitulah. Hanya saja, saya kan masih kerja di kantor, jadi capai sekali rasanya. Seharian di kantor dan malamnya mesti menggambar. Konsentrasi suka terpecah-pecah. Apalagi saya juga mengarang komik Sri Asih itu sendiri. Wah, pikiran saya jadi terbebani dan beban itu jadi penyakit buat saya. Karena saya tak tahan hidup seperti itu, maka saya berhenti saja dari kantor.

Pensiun dini, begitu ya?
Ya, minta berhenti saja. Waktu itu saya sedang mengerjakan komik Mahabharata dan butuh konsentrasi sekali. Sebetulnya saya bisa dapat pensiun, tapi saya enggak ada tempo untuk mengurusnya. Lagian pensiun dulu itu enggak cukup buat hidup. Jauh kalau dibanding jadi komikus, bisa hidup memadai. Pemerintah sekarang ini saja bikin perubahan soal pensiun.

Kenapa Anda lebih memilih berhenti bekerja di kantor?
Ya, suasananya kan lain antara bekerja di kantor dengan menggambar. Kalau bekerja di kantor saya terikat. Kalau menggambar saya jadi lebih bebas. Selain itu, honornya juga lebih besar dengan menggambar. Kalau saya enggak keluar dari kantor, wah enggak akan bisa saya mengerjakan Mahabharata itu. Dua tahun saya mengerjakan komik itu, duduk terus menggambar tiap hari. Kalau saya tetap ngantor, wah enggak bisa itu.

Bagaimana dengan royalti Anda?
Enggak bisa hidup hanya mengandalkan royalti, kecuali kalau sudah dijamin dan sudah ada undang-undangnya. Kalau di luar negeri sudah dijamin soal royalti itu. Sekarang aja sudah ada hak cipta, jaman bapak dulu belum ada. Royalti itu juga tergantung penjualan, kalau terjualnya sedikit ya dapatnya juga sedikit. Sekarang Mahabharata dicetak lagi ya lumayan dapatnya buat sehari-hari karena saya enggak ada pensiun.

Komik apa yang terlama dan paling sulit dikerjakan?
Ya, Mahabharata itu. Lalu Bharatayudha yang jadi satu dengan Mahabharata. Lalu juga Pendawa Seda.

Mengapa butuh waktu lama dan lebih sulit digarap?
Kesulitannya, kalau badan ini tak dijaga betul-betul saya bisa sakit. Saya bisa sakit sesak dan sukar buang air besar karena kebanyakan duduk. Juga saya kena maag. Kalau sudah menggambar, saya bisa duduk terus dari pagi sampai malam.

Bukannya menggambar itu pekerjaan yang disenangi, kok malah jadi penyakit?
Ya, pikiran saya sih rileks saja, tapi badan saya tak bisa dibohongi. Dari pukul enam pagi saya sudah menggambar hingga berhenti 12 siang untuk makan dan tidur sebentar lalu menggambar lagi sampai maghrib untuk mandi dan makan. Setelah itu ya kerja lagi.

Sempat diremehkan orang karena membuat komik wayang?
Oh, enggak ada itu, malah orang-orang itu kayaknya bangga ada komik wayang. Dan saya sering dikatain, eh itu rumahnya si raja komik. Komik dulu, jamannya Orde Lama belum inflasi populer sekali, bisa sesuai dengan masyarakat.

Sudah berapa komik-komik Anda dicetak dan berapa kali yang cetak ulang?
Waduh, saya enggak tahu. Saya hanya pelukis, itu urusan penerbit.

Persisnya sudah berapa judul komik yang Anda buat?
Banyak itu judulnya, enggak kehitung. Lupa bapak ini. Karya saya paling besar dan panjang itu Mahabharata. Ya, untunglah buat saya kebetulan bikin cerita wayang. Saya bangga banyak yang senang dengan cerita ini. Memang, tak gampang bikin karakter wayang, harus tahu satu persatu tokohnya. Saya sih dari kecil senangnya sama Gatotkaca karena gagah, jagoan bisa dapat terbang. Kalau Arjuna saya enggak senang, dari kecil saya sudah anti soalnya tukang kawin. Orang juga enggak ada yang senang sama Arjuna.

*****

Komik Anda dibaca orang sampai 50 tahun kemudian sejak diterbitkan pertama kali. Bagaimana perasaan Anda?
Terus terang, ya senang saja. Begitu saja ya senang. Saya tak nyangka komik saya bisa awet begitu dibaca orang. Artinya ini anugerah Tuhanlah. Soal uangnya sih tak ada, tak begitu banyak. Cukup buat hidup saja. Kalau kaya si enggak, kecuali penerbitnya.

Bagaimana rasanya jadi orang populer?
Ah, biasa saja. Saya suka menegur istri saya kalau dia suka ngomong-ngomong saya yang bikin komik-komik itu. Enggak usahlah dipamer-pamerkan. Ada juga rasa bangga dulunya bikin komik kayak begitu saja. Enggak sangka kalau komik saya bisa dikenal begini.

Komik wayang ini pesanan penerbit atau inisiatif sendiri?
Kebetulan sejak kecil saya suka nonton wayang golek. Dari kecil juga saya senang menggambar wayang, padahal waktu itu belum bersekolah. Nah, waktu bikin komik ya komik wayang. Karakter-karakter wayang saya sudah tahu. Jadi, sebelum dipesan penerbit saya sudah punya bahan banyak.

Darimana bahan-bahan yang diperoleh untuk membuat komik wayang itu?
Ya, selain tahu cerita wayang dari nonton wayang golek, juga dapat dari buku. Ada buku tentang wayang dari India yang diterbitkan Balai Pustaka, cuma teks saja tak ada gambarnya. Jaman Belanda dulu buku itu sudah ada, tapi orang tak mau membacanya. Kisah Ramayana juga sudah ada dulu, tapi tak diperhatikan orang. Buku-buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, bahasa Indonesia, bahasa Sunda dan sepertinya ada juga bahasa Jawa. Sebenarnya orang-orang di jaman saya sudah tahu dan senang sama wayang lewat wayang golek itu, cuma tak baca bukunya. Ancer-ancer saya, sebelum bikin Mahabharata, merasa orang bakal senang kalau ada komiknya. Soalnya tahun 1950-an itu orang pada suka wayang golek. Baru pada jaman kini ya sudah saja kesenangan itu pada anak-anak apalagi setelah ada televisi. Dulu memang tak ada hiburan lain selain wayang golek.

Jadi komik yang Anda buat mencontoh persis cerita yang ada pada buku-buku Balai Pustaka itu?
Ya, sebundel cerita Mahabharata sampai Pendawa Seda saya dapatkan dari buku-buku itu. Tapi, dialog-dialog dalam komiknya itu buatan saya sendiri. Wah, kalau ngikutin buku itu dialognya berat, punya bapak lebih luwes. Kalau baca bukunya itu sendiri orang bisa tak tertarik. Makanya, orang dulu tak tahu cerita wayang. Baru setelah ada komik Mahabharata orang baru tahu kalau asal cerita wayang golek itu dari India.

Sebelumnya Anda bikin komik selain wayang?
Itu berhubungan dengan pasar. Ya, percuma bapak bikin komik wayang kalau penerbit tak mau menerbitkannya. Awalnya, bapak coba bikin komik Ramayana dulu, kok orang jadi ramai membacanya lantas baru bikin Mahabharata itu. Sebelumnya, penerbit menanyakan apa ya cerita wayang yang panjang sehingga bisa banyak komik yang diterbitkan ?. Saya bilang ya cerita Mahabharata itu.

Mahabharata jadi komik terlaris. apa saja hasilnya untuk Anda?
Ya, hasilnya enggak seberapa. Buat istri saya semuanya. Ya, kebutuhan orang hiduplah. Saya kerjanya cuma begitu, pelukis saja, tak seperti ahli dagang. Ya, bisa dapat rumah dan cukup untuk makan. Dan rumah itu juga sudah dijual lagi. Mobil dulu belum ada. Ya, paling-paling hiburan saya dulu nonton bioskop lihat bintang film John Wayne, Eva Gardner. Saya senang nonton film soalnya suka ada inspirasi buat menggambar.

Siapa yang jadi model desain karakter komik-komik Anda?
Enggak ada model-modelan, ya sudah begitu saja jadi gambarnya. Tadinya gambar-gambar saya berasal dari kesenangan saya pada cerita Flash Gordon dari Amerika. Tapi, saya tak meniru profil orang Barat, hanya corak-corakannya saja. Profil tokoh saya hanya imajinasi saja. Boleh diperhatikan, malah kebanyakan komikus itu wajah tokoh-tokohnya hampir mirip dengan dirinya sendiri. Modelnya Jan (Jan Mintaraga-red) juga mirip dirinya, model Ganesh (Ganesh TH-red). Saya sendiri mungkin mirip diri saya juga. Kata orang juga begitu. Saya sudah tua begini ya tak mirip dengan tokoh komik saya, dulu waktu masih muda, he, he, he. Enggak tahu ya kok bisa jadi mirip dengan pelukisnya sendiri, intuisi barangkali ya. Hampir semuanya tuh pelukis kayak begitu.

Darah seni menggambar Anda datang darimana?
Ya, ada dari ibu saya. Buyut dari ibu saya masih bersaudara dengan pelukis Raden Saleh Bastaman dari Semarang. Raden Saleh itu punya adik, buyut ibu saya itu, namanya Syarif Durahman. Dulu ceritanya, kalau buyut itu pergi ke rumah Raden Saleh di Jakarta dari Bogor selalu naik andong.

Sekarang apa kegiatan Anda sehari-hari?
Ya, kerja apa saja, pokoknya jangan sampai enggak gerak. Cuci piring, bersih-bersih ayo saja. Sampai sekarang saya masih terbiasa cuci baju sendiri. Kenapa baju sendiri dicuci orang lain, dari dulu saya juga sudah biasa cuci sendiri, apalagi sekarang tak ada pembantu. Ada pembantu juga saya cuci sendiri daripada ribut-ribut. Saya enggak mau menyusahkan orang lain, juga supaya badan saya gerak. Kemana-mana sekarang saya pergi sama cucu. tak olahraga. Hanya bangun pagi-pagi. bahkan kalau sahur saya yang menyiapkan segala sesuatunya, menghangatkan makanan, baru kalau sudah beres saya bangunkan semuanya.
Penyakit saya hilang setelah saya berhenti bikin komik. soalnya enggak duduk lagi. obat maag hampir tiap hari. kalau enggak menggambar apa tak kehilangan ekspresi? Saya berusaha nrimo dengan keadaan. Tak saya pikirkan hal itu dalam-dalam ya selesai saja. hobi lain adalah membaca khasanah ilmu pengetahuan.

Anda tampak santai saja di usai tua ini. Apa filosofi hidup Anda?
Manusia itu harus bisa nrimo. Semuanya sudah diatur oleh Tuhan kita tinggal menjalani dan menghadapinya saja. Laa hawlaquata ilah billah sajalah. Saya sudah merasa puas dengan kehidupan yang saya jalani ini. Rasanya keinginan saya untuk jadi tukang gambar tercapai dengan jadi komikus ini. Orang kalau tak bisa nrimo itu susah dan gelisah.

Apa cita-cita Anda sebenarnya sewaktu kecil?
Dari kecil saya sudah senang menggambar sehingga ingin jadi pelukis seperti Raden Saleh, Wijoyono. Cuma saya senengnya bikin orang, potret kalau menggambar pemandangan di depannya selalu ada orang. Sebelumnya enggak terbayang jadi komikus. Saya hanya sekolah rakyat di jaman Belanda tahun 1920-an.

Apa pandangan Anda tentang derasnya komik asing masuk ke Indonesia?
Sebenarnya bagus saja kalau kita bisa mengambil inspirasi dari komik-komik asing itu. Sebab, kalau mau ditolak juga enggak bisa. Kita harus bisa mengimbanginya. Dulu tahun 1950-an komik asing juga banyak, kita lantas bikin komik sendiri dan terpuruk tuh komik asing. Semua orang beli komik kita ya mungkin karena baru muncul dan berbahasa Indonesia sehingga orang langsung mengerti ceritanya. Barangkali karena komik asing sekarang itu diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sehingga semakin kuat menyaingi komik buatan kita sendiri. Komik dulu ceritanya bisa terinspirasi komik asing, tapi gambarnya bikinan kita sendiri. Sementara sekarang banyak komik kita yang gambarnya meniru komik asing.

Menurut Anda bagaimana supaya komik kita dapat menyaingi komik asing?
Aduh, saya tak tahu, apalagi saya sudah kurang pemandangan, kurang bergaul. Saya juga sudah jarang datang ke toko buku.

Menurut Anda apakah komikus lokal bisa membuat komik bermutu?
Susah kalau tak dibantu pemerintah. Padahal komikus-komikus muda sekarang itu potensial, pinter-pinter. Mereka sudah lain sama jaman saya. Dulu kebanyakan komikus hanya lulusan sekolah rakyat, sekarang sudah akademi. Komik-komik luarnegeri itu bisa maju juga karena didukung pemerintahnya.

sumber:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=55833&kat_id=85&kat_id1=&kat_id2=

Artikel ‘Pustaka Loka’ pada Harian Kompas 10 juni 2007

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vindocomic @ 9:55 pm

BharatayudhaBagi orang Indonesia, kisah Mahabharata dan Ramayana adalah bagian dari cerita wayang yang telah sangat familiar, khususnya di pedesaan Pulau Jawa. Akan tetapi, siapakah orang yang memperkenalkan kedua epos India tersebut dalam bentuk komik? Adalah RA Kosasih yang telah berjasa membuat kisah yang “berat” itu menjadi ringan bagi orang Indonesia, terutama generasi sebelum tahun 1990-an.

RA Kosasih, pria kelahiran Bogor tahun 1919, telah menjadikan kisah yang sebelumnya eksklusif—karena hanya orang yang terdidik atau kelompok penggemar wayang yang mengerti tentang Mahabharata—menjadi memasyarakat. Melalui komik Mahabharata, epos kepahlawanan itu kini menjadi milik semua orang.

Kisah Mahabharata berasal dari India dan konon ditulis oleh Begawan Vyasa sejak abad ke-4 sebelum Masehi. Dalam perjalanannya kemudian prosa yang berbahasa Sanskerta itu disalin dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Jawa Kuno. Di Indonesia, Balai Pustakalah yang pertama kali menerbitkannya dalam bahasa Indonesia.

Diinspirasi wayang

Melalui Kosasih, epik asli India itu seolah menjadi kisah asli Indonesia karena dari kostum dan setting cerita dibuat sangat Indonesia. Kosasih mengakui bahwa penggambaran cerita klasik itu diinspirasi oleh pertunjukan wayang yang sudah ada. Kegemarannya menonton wayang, khususnya wayang golek, membuatnya mudah memahami berbagai karakter dalam kisah itu.

Ia mengakui, semua deskripsi tokoh dalam komiknya meniru wayang golek dan wayang orang yang telah ada. Misalnya saja tokoh Arjuna yang rupawan dan Rahwana yang menyeramkan dia tiru dari karakter dan penampilan dalam pertunjukan wayang orang.

Tidak terpikirkan oleh Kosasih sebelumnya bahwa dia sudah menciptakan suatu media baru bagi kisah Mahabharata dan wayang menjadi sebuah goresan komik yang dapat dinikmati semua orang. Kisah Mahabharata yang sarat petuah hidup dapat ditransfer oleh Kosasih dalam pemaparan yang luwes, ringan tanpa menghilangkan filosofi yang ada di dalamnya.

Jasa terbesar Kosasih adalah membuat kisah Mahabharata yang cukup pelik dalam prosanya sehingga menjadi mudah dicerna dan ringan dibaca oleh semua lapisan masyarakat. Jika pertunjukan wayang hanya dinikmati oleh sebagian orang khususnya di Pulau Jawa, komik Mahabharata membuat penokohan wayang dikenali oleh masyarakat Indonesia.

Komik wayang ini lahir dari keinginan untuk menjadikan komik sebagai bacaan yang layak dihadirkan pada masyarakat. Pada awal tahun 1950-an, Indonesia dibanjiri oleh komik Amerika, meski komikus Indonesia termasuk Kosasih mencoba membuat komik lokal tetapi masih imitasi komik Amerika. Oleh karena itu, kalangan pendidik menolak komik, termasuk komik lokal yang dianggap tidak mendidik dan hanya meniru budaya Barat.

Menghadapi tantangan demikian, Penerbit Melodi dan beberapa komikus Indonesia saat itu memikirkan sebuah komik yang sarat dengan nilai dan wajah lokal atau Indonesia. Maka, terpilihlah kisah Ramayana dan Mahabharata yang sudah dianggap sebagai bagian dari nilai budaya Indonesia. Diadaptasi lewat suguhan wayang yang lekat dengan budaya asli Indonesia, kini Mahabharata dan Ramayana tampil dalam format komik.

Selain Kosasih, Johnlo pernah membuat komik wayang berjudul Raden Palasara, tetapi yang kemudian produktif membuat komik wayang adalah Kosasih. Dalam waktu yang bersamaan dengan komik Mahabharata, Ardisoma juga membuat komik wayang dengan gambar yang lebih rinci dan memiliki style.

Namun, komik Kosasih jauh lebih disukai karena gambarnya yang lebih sederhana, lugu tetapi tetap menarik dan berkesan bagi pembacanya. Selain itu, cara penyampaian yang gamblang dan mudah dicerna membuat filsafat “berat” yang ada di dalamnya mudah diserap pembaca.

Munculnya komik wayang pada tahun 1954-1955 ternyata disambut sangat antusias oleh masyarakat saat itu, hingga menggeser komik Amerika. Bahkan, pasar komik Amerika di Indonesia hancur dan digantikan oleh komik lokal.

Komik wayang mencapai masa keemasannya hingga tahun 1960-an. Dalam masa jayanya, komik Mahabharata dicetak sekitar 30.000 setiap pekannya dan didistribusikan hingga ke luar Jawa. Serial komik Mahabharata diselesaikan oleh Kosasih dalam waktu dua tahun, karena cerita itu memang sangat panjang.

Pada tahun 1972, penerbit Maranatha Bandung menerbitkan ulang serial Mahabharata, tetapi tidak menggunakan naskah yang lama, karena pemilik hak cipta, yaitu Penerbit Melodi, tidak ingin menjual masternya.

Oleh karena itu, Kosasih membuat ulang Mahabharata di atas kertas kalkir agar dapat langsung dicetak di pelat. Kelemahannya adalah detailnya tidak sebagus yang pertama ketika dibuat di kertas gambar. Hingga tahun 1980-an peredaran komik wayang masih cukup baik, sampai akhirnya masuk komik Jepang.

Pada akhir 1990-an Maranatha masih menerbitkan komik wayang, tetapi baik jumlah maupun peredarannya tidak sebagus awalnya.

Pada awal tahun 2000, penerbit Elex Media Komputindo menerbitkan ulang semua komik wayang karya Kosasih dalam format kecil seperti umumnya komik terbitan penerbit ini. Sayangnya, demi alasan ongkos produksi, keindahan gambar Kosasih tidak tampak lagi di sana, bahkan Seno Gumira Ajidarma menyebutnya sebagai tidak menghargai karya besar Kosasih.

Bapak Komik Indonesia

Kosasih belajar menggambar secara otodidak. Ia sering kali mengisi waktu luangnya, baik di rumah maupun di kantor ketika menjadi pegawai pemerintah waktu itu, dengan menggambar. Pada waktu menjadi pegawai di Kebun Raya Bogor, Kosasih mendapat tugas menggambar binatang dan tanaman. Dari sinilah hobi menggambarnya makin berkembang. Dan, ketika pada suatu hari ia membaca lowongan di iklan kecil, Kosasih pun melamar menjadi komikus pada Penerbit Melodi, Bandung.

Awalnya, dia mengadaptasi komik Amerika, yaitu Sri Asih yang mirip dengan tokoh komik Amerika berjudul Wonder Woman. Oleh Marcel Bonnef, peneliti komik Indonesia, Sri Asih dianggap sebagai penanda munculnya komik Indonesia. Sebelumnya hanya ada komik strip, sedangkan Sri Asih dicetak dalam bentuk buku. Bahkan, Kosasih dianggap sebagai Bapak Komik Indonesia, sebagai pelopor munculnya komik lokal Indonesia.

Ketika merencanakan membuat komik wayang, Kosasih tidak berpikir bahwa dia menciptakan sebuah genre baru dalam khazanah budaya Indonesia. Dia mentransformasikan dua karya budaya yang bernilai tinggi, wayang asli Indonesia dengan epos terbesar dalam sejarah yaitu Mahabharata, menjadi sebuah komik.

Bagi penggemar komik di masa lalu, nama Kosasih pasti tidak asing lagi karena dia yang memperkenalkan kisah Mahabharata dengan sangat komunikatif pada pembaca.

Seperti diakui oleh Seno Gumira Ajidarma bahwa jasa terbesar Kosasih adalah mentransformasikan nilai filosofis yang berat dalam prosa Mahabharata sehingga menjadi ringan dan mudah dibaca dalam komik tanpa kehilangan makna, sekaligus dia sudah membuat ribuan orang mengenal Mahabharata. “Waktu kecil saya jadi tahu Mahabharata dari komik Kosasih. Saya enggak mungkin mampu baca prosanya yang setebal kitab suci itu,” tutur Seno.

Kosasih juga diakui mampu menampilkan karakter tokoh dalam goresan tangannya. Ketika ditanya bagaimana dia menghadirkan karakter dalam komiknya, kakek satu cucu ini menjawab, “Saya hanya mengikuti perasaan saya saja ketika menggambarkan masing-masing tokoh.”

Kosasih mengisahkan, munculnya ide membuat komik wayang karena di satu sisi pada awal tahun 1950-an banyak yang mengkritik komik itu bersifat “kebarat-baratan” dan tidak memiliki muatan lokal.

Terinspirasi oleh kisah yang disajikan dalam wayang, pengagum Gatotkaca ini mengajukan ide membuat komik wayang Mahabharata. Setelah menemukan buku prosa Mahabharata berbahasa Indonesia, Kosasih memulai kreativitasnya mencipta tokoh tersebut dalam komik.

Sebelum membuat serial Mahabharata, Kosasih lebih dulu meluncurkan Ramayana yang mendapat sambutan baik di pasar. Dia akui, komik wayangnya mengambil Mahabharata versi India, karena itu tidak ada punakawan seperti kisah wayang di Jawa. Meski demikian, Kosasih tetap mempertimbangkan budaya pembaca Indonesia.

Setelah menyelesaikan Ramayana dan Mahabharata, pada tahun 1970-an Kosasih membuat komik wayang Bomantara, Parikesit, dan Arjuna Sasrabahu. Ketika pesona komik wayang mulai pudar, Kosasih membuat komik yang diangkat dari legenda asli Indonesia, seperti Lutung Kasarung. Hingga tahun 1980-an Kosasih telah menghasilkan puluhan komik, namun sayangnya saat ini dia tidak ingat lagi angka pasti komik yang dibuatnya, termasuk honor pertamanya sebagai komikus.

Kemampuan fisiknya telah membatasinya berkarya sehingga sejak tahun 1990 Kosasih sudah tidak membuat komik lagi. “Tangan saya gemetar ketika menggambar. Kalau dipaksa gambarnya jelek,” ujarnya.

Kini, harinya-harinya hanya diisi dengan membaca koran dan melakukan aktivitas ringan di rumah putrinya di wilayah Rempoa, Ciputat. Namun, Kosasih bersyukur, menjelang umur 90 tahun dia masih tampak bugar untuk orang seusianya.

artikel diatas diambil dari : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/11/pustaka/3588364.htm

Untuk membeli komik-komik wayang yang lama dapat langsung menghubungi kami di Plasa semanggi lt.2 no.118b.

Telp : 021-9291-1241

Selain komik-komik lama tersebut, kami juga menyediakan komik-komik wayang cetakan ulang karya R.A Kosasih, Oerip, dll.

Terima Kasih.

18 Juni, 2007

Milis Komik Wayang

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vindocomic @ 8:18 am

Hai semua,

kami baru membuat sebuah milis komik wayang. Milis ini diharapkan dapat menjadi cikal bakal komunitas komik wayang dalam bentuk konkrit yang disahkan pada departemen kehakiman.

untuk join dapat mengirim email ke

komikwayang-subscribe@yahoogroups.com

atau

klik pada:


Click to join komikwayang
untuk melihat visi dan misi kami dapat dilihat di:
Komik Wayang

Terima Kasih.

17 Juni, 2007

Vindo Comics Menjual Komik Wayang, Komik Silat, dan Komik Indonesia

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — vindocomic @ 11:01 pm

Showroom kami di Plasa Semanggi lt. 2 no. 118b.

Selamat Datang di portal online kami. Kami Vindo Comics menjual berbagai jenis komik, terutama komik wayang dan komik Indonesia. komik wayang, komik wayang.

Adapun daftar harga komik wayang yang kami jual adalah sebagai berikut :
No Judul Harga
1 Leluhur Hastina Rp25,000.00
2 Mahabharata Rp35,000.00
3 Lanjutan Mahabharata Rp35,000.00
4 Bharatayudha Rp45,000.00
5 Pandawa Seda Rp25,000.00
6 Parikesit Rp25,000.00
7 Udrayana Rp35,000.00
8 Dasamuka Lahir Rp30,000.00
9 Arjuna Sasrababahu Rp45,000.00
10 Lahirnya Rama dan Sinta Rp25,000.00
11 Ramayana Rp45,000.00
12 Putra Rama Rp25,000.00
13 Hanoman Rp25,000.00
14 Wayang Purwa Rp40,000.00
15 Raja Purwacarita Rp40,000.00
16 Batara Wisnu Rp40,000.00
17 Bhagavad Gita Rp35,000.00
18 Betari Durga Rp35,000.00
19 Batara Kresna Rp35,000.00
20 Gatotkaca Sewu Rp25,000.00
21 Jabang Tutuka Rp30,000.00
22 Brajamusti Rp25,000.00
23 Rahasia Borobudur Rp10,000.00
24 Lahirnya Nakula Sadewa Rp10,000.00
25 Angling Dharma Rp10,000.00
26 Kangsa Adujago Rp25,000.00
27 Arjuna Wiwaha Rp25,000.00
28 Arjuna Krama Rp25,000.00
29 Dewi Subhadra Rp25,000.00
30 Pandawa Lima Rp40,000.00
31 Lutung Kasarung Rp20,000.00
32 Siti Gahara Rp35,000.00
33 Asal usul Siti Gahara Rp20,000.00
34 Sangkuriang Rp10,000.00
35 Dewa Ruci Rp12,500.00
36 Pergiwa Pergiwati Rp10,000.00
37 Burisrawa Rindukan Bulan Rp10,000.00
38 Panji Semirang Rp45,000.00
39 Ciung Wanara Rp10,000.00
40 Mahabharata Hardcover Rp190,000.00
41 Semar Sejati Rp15,000.00
42 Babad Cirebon Rp35,000.00
43 Sunan Kalijaga Rp35,000.00
44 Bomantara Rp45,000.00
45 Seri labah2 merah – Munculnya Labah-labah Mirah Rp20,000.00
46 Seri labah2 merah – 7 Labah-labah merah Rp20,000.00
47 Seri labah2 merah – 5 jari setan Rp20,000.00
48 Seri labah2 merah – Siluman Serigala Rp20,000.00
49 Seri labah2 merah – Siluman Kelelawar Rp20,000.00
50 Seri labah2 merah – Pembalasan Siluman kelelawar Rp20,000.00
51 Seri labah2 merah – Manusia 3D Rp20,000.00
52 Seri labah2 merah – Operasi Narkotik Rp20,000.00
53 Seri labah2 merah – Hantu-hantu Neraka Rp20,000.00
54 Lamaut – labah labah maut Rp22,000.00

Komik wayang yang kami jual merupakan cetakan ulang dari naskah asli karangan R.A Kosasih, Oerip, Ardhisoma, dll. Komik Indonesia seri labah-labah merah juga merupakan cetakan ulang dari naskah asli karangan Kus Bram.

Dapatkan juga Komik Silat Indonesia Cetakan lama karya-karya Man, Hans, Ganes Th, Teguh Santosa, Djair, Henky, dll. Komik silat yang dijual dijamin keasliannya (Bukan Fotocopy-an).

kami juga menerima pemesanan untuk mencari komik-komik silat cetakan lama yang telah langka.

untuk pemesanan dapat menghubungi kami di :

Telp : 021-9291-1241

Hp : 0815-913-4183

atau komik wayang, komik Indonesia, komik Indonesia

Email : vindo_mail@yahoo.com

untuk pemesanan Online, pembayaran dapat dilakukan melalui transfer BCA.

Account number : 5270851985 a/n Andi Yunus

Untuk daftar harga komik lainnya, akan kami cantumkan pada post berikutnya atau dapat langsung datang ke counter kami.

Terima Kasih.

Vindo Comics,

Plasa Semanggi Lt.2 no.118b.

Pusat Komik Wayang, Silat, dan Indonesia.

Blog pada WordPress.com.